Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Aksi kekerasan kepada wisatawan mancanegara di Bali kembali terulang. Anggota Komisi VII DPR Siti Mukaromah mendesak pemerintah melakukan tindakan tegas kepada segala aksi yang mengancam industri pariwisata di Pulau Dewata.
“Bali merupakan tulang punggung pariwisata nasional sekaligus menjadi etalase Indonesia di manca negara. Kalau aksi kekerasan kepada para wisatawan asing terus berulang pasti akan menurunkan tingkat kunjungan serta merusak nama baik Indonesia di mata dunia,” ujarnya, Selasa (4/2/2025).
Belakangan ini mencuat kasus perampokan bersenjata di Bali yang dilakukan komplotan warga negara asing yang didominasi warga Rusia. Peristiwa yang terjadi di Bandung pada (15/12/2024) ini menimpa WNA asal Ukraina.
Korban dimasukkan ke dalam mobil, diborgol, dipukul lalu dipakaikan penutup kepala warna hitam. Telepon genggam korban diambil lalu dipaksa mengalihkan aset miliknya ke salah satu akun.
Baca Juga: Polisi Tangkap 1 Perampok WN Ukraina di Bali saat Akan Terbang ke Dubai
Nilai aset sebesar 214.428,13 dollar AS atau setara Rp3,5 miliar. Polisi mengantongi sembilan nama pelaku yang dilaporkan korban. Satu orang terduga pelaku yang menjadi anggota komplotan berhasil ditangkap saat hendak meninggalkan Bali melalui Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai.
Sebelumya, terjadi penutupan dan pembubaran Parq Ubud atau Kampung Rusia, apartemen yang dilengkapi dengan ruang kerja, restoran, kafe, dan fasilitas lainnya. Konflik destinasi wisata juga terjadi di Wisata Lahangan Sweet, lokasi wisata yang menjadi andalan bagi warga Desa Adat Gulinten, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.
“Berbagai kejadian yang terjadi di Bali, seharusnya mendorong untuk evaluasi menyeluruh dan solusi komprehensif bagi industri pariwisata di Bali. Paska pandemi, angka kunjungan khususnya turis asing di Bali naik. Ini merupakan potensi yang harus dimaksimalkan,” kata Erma sapaan akrab Siti Mukaromah.
Baca Juga: Indonesia Tak Masuk 10 Kota Wisata Terbaik, Komisi VII DPR: Momen untuk Berbenah
Bali memiliki daya tarik tersendiri mulai dari industri restoran, hotel, kuliner, dan sebagainya. Terbukti di Bali tahun 2024 lalu sudah berhasil menggaet 6,3 juta turis asing. Jumlah tersebut naik sebanyak 19,5 persen dari periode yang sama pada tahun lalu.
Erma menambahkan, solusi komprehensif dibutuhkan tidak hanya terkait penindakan terhadap sektor keamanan tetapi juga terkait dengan masalah lain. Dirinya mencontohkan, ketentuan mengenai investor asing di Bali. WNA yang memiliki uang sepuluh miliar sudah bisa melakukan investasi di Bali.
"Kebijakan ini perlu dikaji apakah malahan menimbulkan persaingan tidak sehat antar investor asing, dan mengesampingkan peran warga masyarakat lokal," pungkasnya.
(cw1/Nusantaraterkini.co)
