Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Analis Pasar: Pergerakan IHSG Cenderung Wait And See di Tengah Dinamika Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 69,44 poin atau 0,94% ke 7.324,78 di akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Sumber foto: ilustrasi)

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (13/12) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 69,44 poin atau 0,94% ke 7.324,78 di akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

BACA: IHSG Berakhir di Zona Merah Turun 0,82% ke Level 7.403,56 di Perdagangan Sesi I Siang Ini

IHSG ditutup di zona merah pada akhir perdagangan pekan lalu. Selama sepekan, IHSG juga sudah turun 0,79%.

Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan

Aliran dana asing juga tercatat keluar sebesar Rp 1,48 triliun di seluruh pasar dan Rp 225,27 miliar pada pasar reguler selama sepekan terakhir.

BACA: IHSG Terjatuh di Zona Merah Turun 27,09 Poin ke Level 7.367,15 di Akhir Perdagangan Sesi I Siang Ini

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan IHSG pada pekan lalu masih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pertama, rilis data perekonomian China, seperti inflasi dan neraca dagang. 

Baca Juga : IHSG Tertekan Sepekan, Turun 2,42% — Kapitalisasi Pasar Susut ke Rp12.382 Triliun

“Inflasi China masih cenderung melandai, meskipun neraca dagangnya menguat,” ujarnya.

BACA: IHSG Terperosok ke Zona Merah Turun 0,33% ke Level 7.440 di Awal Perdagangan Kamis (12/12/2024)

Kedua, rilis data inflasi dan PPI Amerika Serikat (AS) bulan November. Dalam rilis tersebut, tercatat bahwa tingkat inflasinya meningkat menjadi 2,7% secara tahunan alias year on year (YoY). 

Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpotensi Tembus 7.500, Sinyal Penguatan Muncul di Awal Pekan

“Pada bulan sebelumnya inflasi tercatat sebesar 2,6% YoY. Hal tersebut meningkatkan probabilitas akan pemangkasan suku bunga The Fed,” tuturnya.

BACA: IHSG Naik 0,33% ke Level 7.409 di Awal Perdagangan Senin (9/12/2924)

Ketiga, nilai tukar Rupiah yang cenderung melemah serta aksi profit taking para investor yang diperkirakan juga turut membebani pergerakan IHSG. 

Baca Juga : IHSG Hari Ini Terkoreksi ke 7.594, Waspada Tekanan Lanjutan, Ini Strategi yang Disarankan Analis

Untuk perdagangan Senin (16/12), Herditya memperkirakan pergerakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya meskipun cenderung terbatas. Pergerakannya diproyeksikan akan ada di area support 7.244 dan resistance 7.386. 

Sentimen pergerakan IHSG esok adalah adanya rilis data ekonomi China; serta penantian beberapa kebijakan, seperti penentuan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed yang akan diumumkan pada pekan ini. 

Herditya pun menyarankan investor untuk mencermati TLKM dengan target harga di Rp 2.840 - Rp 3.000 per saham, ADRO Rp 2.740 - Rp 3040 per saham, dan BUKA Rp 134 - Rp 138 per saham.

Baca Juga : Sempat jadi Primadona, Pasar Petisah Kini Berubah Sepi

VP Marketing, Strategy and Planning PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi melihat, tertekannya IHSG di pekan lalu didorong oleh keluarnya aliran dana asing lantaran nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

“Selain itu, rilis data penjualan eceran domestik yang jauh di bawah ekspektasi pasar dan menjadi bukti tekanan pada permintaan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (13/12).

Pada perdagangan Senin besok, Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak melemah cenderung terbatas dalam rentang level support 7.278 dan resistance 7.420.

Baca Juga : Siasat Bertahan di Tengah Inflasi, Kuliner Murah jadi Oase bagi Mahasiswa dan Pekerja di Medan

“Indikator MACD mulai menunjukkan tren yang melemah, sejalan juga dengan RSI,” ungkapnya.

Sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG pada perdagangan besok adalah penantian akan data neraca dagang Indonesia bulan November 2024 yang diperkirakan surplus US$ 2,4 miliar. Namun, jika rilisnya berada di bawah prediksi, akan berpotensi di respon negatif oleh pasar. 

“Selain itu, pasar juga cenderung wait and see di tengah dinamika pelemahan nilai tukar rupiah,” ungkapnya.

Audi pun merekomendasikan trading buy untuk ISAT dengan level support di Rp 2.520 per saham dan resistance Rp 2.840 per saham.

Rekomendasi speculative buy diberikan untuk ICBP dengan support di level Rp 11.450 per saham dan resistance Rp 12.400 per saham.