Bulog Akui Bansos Tidak Buat Harga Beras Turun, Begini Kata Peneliti
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengakui bantuan sosial (bansos) pangan tak membuat harga beras turun.
Baca Juga : Masinton Pasaribu Prank Warga Tapteng Soal Jadwal Penerimaan Jadup Tahap II
Menanggapi hal itu, Peneliti Core Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan, intinya bahwa pasokan bulog sekitar 300.000 ribu ton untuk 22 juta rakyat memang tidak sangat signifikan untuk mengurangi harga beras di level nasional.
Baca Juga : Gus Ipul Ingatkan Pemda, Sekolah Rakyat Tak Buka Pendaftaran, Siswa Dijaring Lewat Penjangkauan Langsung
Karena, kata dia, jumlah 300.000 ribu ton itu hanya sekitar 1 persen dari 35 juta ton beras nasional kalau merujuk pada tahun 2023 lalu.
Bahkan, sambung Ishak, cadangan stok beras bulog itu sekitar 1,5 juta ton itu aertinya kalau konsumsi 30-35 juta ton artinya hanya 5 persen cadangan beras bulog.
Baca Juga : Tinjau Stok Beras di Sumut, Sugiat Santoso Soroti Urgensi Penambahan Gudang
"Memang peran bulog akan sangat sulit menstabilkan harga beras kalau hanya menyalurkan bansos. Pasalnya, jika memang dibuka peluang dibuka importasir secara terukur dengan catatan menekan harga beras kemudian tidak menganggu proses panen raya akan berlangsung pada April mendatang," kata Ishak kepada nusantaraterkini.co, Selasa (5/3/2024).
Baca Juga : Harga Beras Bergejolak, DPR Desak Pemerintah Evaluasi Tata Kelola Pangan
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengakui bantuan sosial (bansos) pangan tak membuat harga beras turun.
Bayu menyebut saat ini pemerintah telah menggelontorkan 360 ribu ton beras untuk bansos. Namun, hal itu tak membuat harga beras turun.
Baca Juga : Minyakita Langka di Pasar Sumut, Pengamat Soroti Dugaan Pasokan hingga Spekulan
"Kalau ada yang mengatakan bantuan pangan ini tidak berpengaruh terhadap penurunan harga, benar tidak berpengaruh," ucap Bayu.
Baca Juga : Cadangan Beras 2.642 ton, Dido Peto Sifarif : Aman hingga Tiga Bulan
Kendati, dengan bantuan pangan itu Bayu menilai dapat membantu masyarakat mengakses beras. Menurutnya, bansos membuat 22 juta keluarga tak perlu repot mencari beras ke pasar.
Bayu juga menilai 22 juta keluarga itu merupakan yang paling sensitif terhadap harga beras.
"Sehingga apabila mereka merasa cukup pembelian 10 kg per bulan itu informasi yang kami terima mencukupi 40-50 persen kebutuhan keluarga itu adalah satu bulan," tuturnya.
"Sehingga mereka cukup tenang untuk menjalani hari-harinya karena mereka telah memiliki beras," imbuhnya.
Di sisi lain, Bulog pun terus berupaya mengendalikan harga beras. Salah satunya, dengan melanjutkan penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
(cw1/nusantaraterkini.co)
