Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bursa Asia Menguat: Nikkei 225 Naik dan Hang Seng Naik 12,87 Poin

Editor :  Team
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Bursa Asia menguat indeks Nikkei 225 naik 94,25 poin atau 0,24% ke 39.855,78, Hang Seng naik 12,87 poin

Nusantaraterkini.com - Pada perdagangan Kamis (3/7/2025) Bursa Asia menguat indeks Nikkei 225 naik 94,25 poin atau 0,24% ke 39.855,78, Hang Seng naik 12,87 poin atau 0,05% ke 24.234,28, Taiex naik 168,63 poin atau 0,75% ke 22.747,71.

Kemudian, Kospi naik 32,61 poin atau 1,06% ke 3.107,41, ASX 200 turun 32,84 poin atau 0,38% ke 8.564,90, Straits Times naik 0,03 poin atau 0,00% ke 4.010,55 dan FTSE Malaysia turun 4,05 pon atau -0,26% ke 1.546,40. 

Bursa Asia naik tipis menjelang rilis data pekerjaan AS, setelah saham AS mencapai rekor terbaru pasca Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan Vietnam.

Baca Juga : IHSG Berpotensi Bangkit, Sentimen Global Membaik Usai Sinyal AS Mundur dari Konflik Iran

Mengutip Bloomberg, berita tentag kesepakatan perdagangan AS-Vietnam mendukung saham pakaian jadi termasuk Nike Inc di tengah harapan bahwa kesepakatan baru akan mencegah potensi bencana rantai pasokan.

Pada kesepakatan perdagangan dengan Vietnam, Trump mengatakan ia mencapai kesepakatan setelah perundingan selama beberapa pekan. 

Tarif sebesar 20% dikenakan pada ekspor Vietnam ke AS, dengan pungutan sebesar 40% pada barang apapun yang dianggap diangkut melalui negara itu.

Baca Juga : IHSG Dibuka Melemah ke 7.136, Bursa Asia Serempak Terkoreksi

Trump mengatakan bahwa Vietnam telah setuju untuk mencabut semua pungutan pada impor AS.

Sementara itu, data nonfarm payrolls AS akan dirilis pada Kamis (3/7) waktu setempat, yang akan mencerminkan data perekurtan dan tingkat pengangguran pasca perubahan kebijakan perdagangan dan imigrasi pemerintahan Trump.

Sementara itu, Ketua Federl Reserve Jerome Powell menegaskan bahwa pasar tenaga kerja tetap solid. 

Para pembuat kebijakan menahan diri untuk tidak menurunkan suku bunga pada tahun ini karena mereka menanti dampak tarif terhadap inflasi.

"Salah satu alasan mengapa The Fed mampu bersabar sebelum memangkas suku bunga adalah karena pasar tenaga kerja masih dalam kondisi yang baik. Jadi jika hal ini berubah, maka Fed mungkin akan dipaksa bertindak lebih awal dari yang mereka inginkan," kata Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management.

(wiwin/nusantaraterkini.co)