Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dilema Ekonomi Indonesia: IHSG dan Emas Menguat di Tengah Ancaman Rupiah Menuju 17.000 ​

Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)

Nusantaraterkini.coMEDAN-Pasar keuangan Indonesia menunjukkan anomali yang menarik pada penutupan perdagangan, Senin (18/1/2026). Di tengah tekanan hebat yang melanda mata uang Garuda, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil membalikkan keadaan setelah sempat tertekan ke level 9.025 di sesi pertama. 

Kekuatan sektor perbankan menjadi motor utama yang membawa indeks ke zona hijau, dengan emiten raksasa seperti BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, hingga BBYB yang tampil sebagai penopang utama. IHSG akhirnya menutup hari pada posisi tertingginya di level 9.133,873, atau menguat 0,64 persen, sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan investor domestik di tengah ketidakpastian global. 

Baca Juga : IHSG Diprediksi Konsolidasi, Saham ASII hingga BUVA Layak Dicermati

​Namun, kegemilangan di pasar saham berbanding terbalik dengan kondisi di pasar valuta asing. Rupiah terus menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan hingga mendekati ambang psikologis baru. Menanggapi situasi ini, para pengamat pasar menyoroti bahwa pelemahan ini bukan tanpa alasan. 

"Rupiah ditutup turun di level 16.935 per US Dolar, di mana sepanjang sesi perdagangan mata uang ini terus tertekan dalam rentang 16.920 hingga 16.945. Posisi ini kian dekat ke level 17.000 seiring dengan akumulasi sentimen negatif eksternal dan fokus pasar terhadap potensi defisit APBN yang diperkirakan berlanjut di tahun 2026," ujar Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, di Medan, Senin (19/1/2026). 

Menurut Gunawan, kondisi ekonomi regional pun tidak memberikan banyak bantuan bagi penguatan mata uang. Data PDB China yang baru saja dirilis menunjukkan adanya perlambatan yang nyata pada ekonomi raksasa Asia tersebut. Meskipun pertumbuhan kuartal keempat sebesar 4,5 persen masih sesuai dengan ekspektasi pasar, angka ini nyatanya lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya yang mencapai 4,8 persen. "Perlambatan ekonomi China ini menjadi sinyal waspada bagi mitra dagang di kawasan, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut," ungkapnya. 

​Di sisi lain, lanjutnya, ketidakpastian ekonomi justru menjadi bahan bakar bagi kenaikan harga aset aman atau safe haven. Harga emas dunia terpantau masih betah di zona hijau dan terus bergerak naik. 

Baca Juga : IHSG Tembus 9.000, Asing Borong Saham, Simak Rekomendasi Hari Ini

"Harga emas dunia ditransaksikan berkisar $4.663 per ons troy atau sekitar 2,55 juta per gram pada sesi sore, di mana harga tersebut terus beranjak naik dan masih berpeluang mencetak rekor tertinggi baru di tengah kombinasi kenaikan harga global dan memburuknya kinerja Rupiah belakangan ini," pungkasnya. 

(Akb/Nusantaraterkini.co)