Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/Fed) untuk kembali menahan suku bunga acuan menempatkan arah kebijakan moneter AS sebagai sorotan utama pasar global, termasuk aset kripto. Meski suku bunga tidak berubah, melemahnya dolar AS justru dinilai membuka peluang positif bagi pergerakan Bitcoin.
Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), The Fed mempertahankan suku bunga dana federal di kisaran 3,5%–3,75%, seraya menegaskan bahwa tekanan inflasi masih tergolong “agak tinggi”. Menariknya, dua pejabat Fed memilih dissenting opinion dengan mendorong pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Keputusan tersebut mencerminkan sikap wait and see bank sentral, yang berseberangan dengan tekanan Presiden AS Donald Trump agar The Fed segera melonggarkan kebijakan moneternya. Namun, pelaku pasar menilai relaksasi moneter bisa saja terjadi secara tidak langsung melalui pelemahan dolar AS di pasar global.
Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global
Mengutip Cointelegraph, Kamis (29/1/2026), Indeks Dolar Spot Bloomberg tercatat turun ke level terendah dalam empat tahun. Bahkan, dolar AS mencatatkan kinerja tahunan terburuk sejak 2017. Kondisi ini menjadi perhatian investor kripto, mengingat secara historis Bitcoin kerap menguat saat dolar melemah.
Di tengah sentimen tersebut, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$89.414, dengan volatilitas tinggi seiring perbedaan pandangan pasar terkait peluang pemangkasan suku bunga ke depan. Sejumlah analis menilai, arah pergerakan dolar AS saat ini lebih berpengaruh terhadap Bitcoin dibanding keputusan suku bunga itu sendiri.
Kepala riset makro Global Macro Investor, Julien Bittel, sebelumnya menyebut dolar yang terlalu kuat sebagai “bola penghancur” bagi aset berisiko karena memperketat kondisi keuangan global. Sebaliknya, dolar yang melemah dinilai dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Baca Juga : Rupiah Bergerak Datar, Tekanan Pasar Obligasi dan Sentimen Moody’s Masih Membayangi
Analisis serupa datang dari pelaku pasar di platform aset digital OSL Hong Kong, yang menyoroti korelasi terbalik antara Bitcoin dan Indeks Dolar AS. Saat dolar menguat, aset kripto cenderung tertekan. Namun ketika dolar melemah, selera risiko investor biasanya meningkat.
Meski demikian, peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dinilai semakin mengecil. Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga untuk dua pertemuan Fed berikutnya kini berada di bawah 50%, seiring inflasi yang masih dijaga ketat dan ekonomi AS yang tumbuh lebih solid dari perkiraan.
Situasi ini menempatkan pasar kripto di titik krusial. Ke depan, kombinasi arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS akan menjadi faktor penentu utama apakah Bitcoin mampu melanjutkan tren positifnya atau justru kembali tertekan.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Kamis (29/1/2026) pukul 06.30 WIB, Bitcoin (BTC) berada di level US$89.189, melemah 0,24% secara harian dan turun 0,78% dalam sepekan terakhir.
(Dra/nusantaraterkini.co).
