Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan dari negara-negara Andean akan mengadakan sebuah pertemuan darurat pada akhir pekan ini.
Nusantaraterkini.co - Pemerintah Peru mengatakan pertemuan darurat ini akan membahas sejumlah masalah kejahatan narkoba lintas perbatasan yang telah membawa Ekuador ke dalam krisis keamanan.
Baca Juga : Ancaman dan Ketakutan Biden dengan Donald Trump pada Pemilu November Mendatang
Perdana Menteri Peru Alberto Otarola, mengatakan bahwa pertemuan di Lima, Peru, pada Minggu ini akan fokus pada cara-cara menghadapi kejahatan transnasional. Terkhusus, pemberantasan narkoba.
"Kita harus menghentikan perdagangan narkoba, yang merupakan sumber utama pendanaan untuk masalah yang telah menimbulkan kematian, kekacauan dan kecemasan di negara tetangga kita, Ekuador," kata Alberto Otarola, dilansir dari AFP, Selasa (16/1/2024).
Para menteri dari Peru, Bolivia, Kolombia dan Ekuador akan mengambil masing-masing bagian, berupaya memperdalam kerjasama melalui "sistem intelijen, polisi, dan angkatan bersenjata nasional... dalam perjuangan bersama melawan kejahatan terorganisir," kata Otarola.
Baca Juga : Iran Bongkar Keterlibatan 10 Intelijen Asing dalam Kerusuhan Nasional, Sebut Ada Rencana AS-Israel
Ekuador pernah menjadi benteng perdamaian antara produsen kokain terbesar di dunia, yakni Kolombia dan Peru, baru-baru ini terjerumus ke dalam krisis setelah bertahun-tahun melakukan ekspansi oleh kartel transnasional.
Kekerasan terbaru ini dipicu oleh kaburnya Guayaquil dari penjara lebih dari seminggu yang lalu. Guayaquil merupakan salah satu bos geng narkotika paling kuat di Ekuador.
Sebelumnya, Pemerintah mengumumkan keadaan darurat dan jam malam di seluruh negeri, membuat marah para gangster yang melancarkan beberapa serangan mematikan dan menyandera puluhan orang, namun sebagian besar telah dibebaskan.
Baca Juga : RS Indonesia Diserang, Update Gaza: Korban Jiwa Tembus 13.000
Pada hari Minggu, pasukan keamanan Ekuador mengatakan mereka telah mengambil kendali beberapa penjara dari balik geng dan melaporkan lebih dari 1.300 penangkapan, 8 teroris terbunuh, dan 27 narapidana yang melarikan diri ditangkap kembali.
Kekerasan akibat narkoba menimbulkan dampak buruk terhadap generasi muda di Ekuador, dengan tingkat pembunuhan di kalangan anak-anak dan remaja melonjak hingga setidaknya 770 kasus, meningkat sebesar 640 persen dibandingkan empat tahun sebelumnya, kata UNICEF pada hari Senin, mengutip Kementerian Dalam Negeri Ekuador.
Kantor badan anak-anak PBB untuk Amerika Latin dan Karibia yang berbasis di Panama itu mengatakan perekrutan paksa anak-anak oleh geng narkoba juga meningkat. Kekerasan akibat narkoba juga menghalangi akses anak di bawah umur terhadap hal-hal mendasar seperti layanan kesehatan dan pendidikan.
Baca Juga : Jokowi Terima Tanda Jasa Kehormatan Order of Zayed dari Presiden Uni Emirat Arab
(Ann/Nusantaraterkini.co)
