Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Jumat (20/12/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,09% atau 6,62 poin ke level 6.983,86 di pasar spot.
Selama sepekan terakhir, IHSG sudah terkoreksi 4,65%. IHSG hanya mampu naik tipis di perdagangan terakhir pekan ini setelah melemah dalam enam hari perdagangan beruntun.
BACA: IHSG Menguat Tipis 0,09% ke Level 6.983,86 di Akhir Perdagangan Jumat (20/12/2024)
Baca Juga : IHSG Menguat 55,57 Poin Bertengger di Level 7.909,63
Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 5,06 triliun sepekan terakhir.
Adapun untuk perdagangan Jumat (20/12), asing mencatatkan net sell di seluruh pasar sebesar Rp 417,99 miliar.
BACA: IHSG Semakin Terpuruk 116,032 Poin ke Level 6.991,843 di Akhir Perdagangan Sesi I
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Menguji Level 7.680 di Perdagangan Selasa (12/8/2025)
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, pergerakan IHSG sepekan terakhir dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi.
Dari global ada data inflasi Amerika Serikat (AS), data ketenagakerjaan AS, pertemuan The Fed yang memangkas tingkat suku bunga acuan dan perlambatan penurunan tingkat suku bunga.
BACA: IHSG Ditutup Melemah 49,86 Poin ke Level 7.107,87 di Perdagangan Rabu (18/12/2024) Sore Ini
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpotensi Tembus 7.500, Sinyal Penguatan Muncul di Awal Pekan
Dari dalam negeri, lanjut Nico, pergerakan IHSG di pekan ketiga Desember 2024 ini juga dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menahan tingkat suku bunga acuan.
Vice President Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menyebutkan, IHSG didominasi oleh sentimen keputusan dan arah kebijakan bank sentral dalam sepekan ini.
BACA: IHSG Menghijau Naik 411,175 Poin ke Level 7.198,907 di Awal Perdagangan Rabu (18/12/2024)
Baca Juga : IHSG Hari Ini Terkoreksi ke 7.594, Waspada Tekanan Lanjutan, Ini Strategi yang Disarankan Analis
Menurutnya setelah Federal Open Market Committee (FOMC), The Fed menunjukkan kebijakan yang lebih konservatif dengan pemangkasan yang diperkirakan lebih lambat cenderung menekan pasar saham.
"Ketidakpastian dari pelonggaran kebijakan moneter akan menahan inflow asing seiring dengan perpindahan instrumen investasi ke arah yang memiliki risiko lebih rendah," katanya.
Audi menilai ketidakpastian arah kebijakan moneter ini turut berpotensi menggerus daya beli. Tak hanya itu, permintaan kredit juga berpotensi tertekan karena ketidakpastian ini.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan
"Pasar juga mulai merespons terkait rilis kebijakan pemerintah terkait kenaikan PPN yang dikhawatirkan pasar cenderung menekan konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah," jelas dia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS. Ini berimbas pada nilai tukar rupiah yang terus melemah.
"Penguatan dolar AS juga terjadi karena Trump Effect yang mengincar aliran dana investor asing untuk bisa masuk ke pasar AS sehingga terjadi outflow di pasar negara lain," katanya.(kontan)
Baca Juga : IHSG Tertekan Sepekan, Turun 2,42% — Kapitalisasi Pasar Susut ke Rp12.382 Triliun
