Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Indeks Utama Wall Street Ditutup Terpeleset di Zona dengan Nasdaq Memimpin Penurunan

Editor :  Team
Reporter :  w
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wal street terjatuh di mana Nasdaq Composite melemah 113,80 poin atau 0,59% menjadi 19.061,78 poin dan Dow Jones Industrial Average turun 136,31 poin atau 0,31% ke 44.723,23 poin.

Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Rabu (27/11/204) Indeks utama Wall Street ditutup Terpeleset di zona, dengan Nasdaq memimpin penurunan. 

BACA: Harga Emas Spot Tetap Stabil di Angka US$2.636,35 Per Ons Troi

Akibat merosotnya saham teknologi di tengah kekhawatiran bahwa The Fed mungkin akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga setelah data inflasi AS yang tetap tinggi. 

Baca Juga : Wall Street Pecahkan Rekor, Dolar AS Menguat

Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, indeks S&P 500 turun 22,85 poin atau 0,38% menjadi 5.998,78 poin. 

Sementara, Nasdaq Composite melemah 113,80 poin atau 0,59% menjadi 19.061,78 poin dan Dow Jones Industrial Average turun 136,31 poin atau 0,31% ke 44.723,23 poin.

BACA: Bursa Asia Pasifik Dibuka Bervariasi Setelah reli Wall Street Terhenti Meski Data Inflasi Amerika Serikat Sesuai dengan Ekspektasi 

Baca Juga : Wall Street Merosot Karena Lonjakan Pada Sesi Sebelumnya Mereda: Dow Jones Industrial Average Ditutup Melemah 68,42 Poin

Berdasarkan data ekonomi terbaru menunjukkan belanja konsumen meningkat solid pada Oktober, menandakan ekonomi AS tetap tumbuh dengan kuat. 

Namun, upaya menurunkan inflasi tampaknya mengalami hambatan. 

Menurut CME FedWatch, para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember.

Baca Juga : Sempat jadi Primadona, Pasar Petisah Kini Berubah Sepi

BACA: Harga Bitcoin Naik 4,12% Level US$ 96.090,91 Berpotensi Terus Naik Hingga ke Level US$100.000 

Namun, mereka juga memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga pada pertemuan Januari dan Maret. 

Investor juga mencerna dampak dari pernyataan Presiden terpilih Donald Trump pada Senin (25/11) yang berencana memberlakukan tarif 25% pada impor dari Meksiko dan Kanada serta 10% pada barang dari Tiongkok, kecuali negara-negara tersebut menghentikan aliran opioid fentanyl dan imigran ilegal ke AS. 

Baca Juga : Siasat Bertahan di Tengah Inflasi, Kuliner Murah jadi Oase bagi Mahasiswa dan Pekerja di Medan

BACA: Kurs Rupiah Berhasil Rebound Bertengger di Level Rp 15.935 Per Dolar AS

Goldman Sachs dalam catatannya minggu ini menyebutkan bahwa eskalasi kebijakan tarif ini berisiko menunda pencapaian target inflasi 2,0%. 

Tekanan pada Saham Teknologi 
Saham Dell merosot 12%, sedangkan HP turun hampir 6% setelah memberikan proyeksi kuartalan yang mengecewakan.

Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global

 Sektor Teknologi Informasi turun 1,2%, dengan sentimen negatif juga memengaruhi saham megakapitalisasi seperti Nvidia dan Microsoft. Indeks Philadelphia SE Semiconductor tercatat turun 1,8%. 

BACA: IHSG Melorot 38,083 Poin ke Level 7.207,805 di Perdagangan Pagi

Sementara itu, indeks Russell 2000 yang sempat mencapai rekor tertinggi awal minggu ini berakhir naik tipis 0,1%. 

Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Daya Tarik Dolar AS Sebagai Lindung Nilai Melemah

Fokus pada Data Ekonomi dan Kebijakan The Fed 
Data ekonomi yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat pada kuartal ketiga, dengan klaim pengangguran mingguan kembali menurun.

Kondisi ini membuka peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada Desember. 

Namun, Scott Welch, Kepala Investasi di Certuity, mengatakan, “Inflasi terbukti lebih sulit diturunkan daripada yang diharapkan The Fed, sehingga mereka mungkin akan berhati-hati dalam memangkas suku bunga.” 

Ia juga menyoroti potensi dampak inflasi dari kebijakan tarif Trump, yang akan memaksa The Fed menyeimbangkan data ekonomi dengan agenda kebijakan pemerintahan yang akan datang. 

Risalah dari pertemuan The Fed pada November yang dirilis Selasa (26/11) menunjukkan adanya ketidakpastian di antara pembuat kebijakan mengenai prospek pemotongan suku bunga dan seberapa besar suku bunga saat ini memengaruhi perekonomian. 

Saham-Saham Lainnya 
Saham Workday turun 6,2% setelah memproyeksikan pendapatan langganan kuartal keempat di bawah ekspektasi akibat lemahnya belanja klien pada perangkat lunak manajemen sumber daya manusia mereka. 

Bulan ini, indeks S&P 500 diproyeksikan mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam setahun dan menjadi bulan keenam naik dari tujuh bulan terakhir, didorong ekspektasi bahwa kebijakan Trump akan mendukung bisnis lokal dan perekonomian secara keseluruhan. 

(nusantaraterkini.co/win)