Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Indeks Utama Wall Street Terjungkal Gara-gara Penurunan Saham AI Nvidia yang Membebani Saham Teknologi

Editor :  Team
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks utama Wall Street ditutup lebih rendah di mana Wall Street terjungkal gara-gara penurunan saham AI Nvidia yang membebani saham teknologi. 

Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Senin (9/12/2024) Indeks utama Wall Street ditutup lebih rendah di mana Wall Street terjungkal gara-gara penurunan saham AI Nvidia yang membebani saham teknologi. 

Sedangkan, investor menantikan laporan inflasi penting yang ditetapkan akhir minggu ini.

BACA: IHSG Ditutup Bertengger di Zona Hijau Naik 54,94 Poin ke Level 7.437,73 Sore ini

Baca Juga : Bursa Asia Mayoritas Nongkrong di Zona Hijau Sambil Menunggu Pelantikan Presiden AS Donald Trump

Diperdagangan hari ini, Dow Jones Industrial Average turun 240,59 poin atau 0,54% menjadi 44.401,93.

Indeks S&P 500 turun 37,42 poin atau 0,61% menjadi 6.052,85. Nasdaq Composite turun 123,08 poin atau 0,62% menjadi 19.736,69.

Sementara, harga saham Nvidia turun 2,5% setelah regulator pasar China meluncurkan penyelidikan terhadap pembuat chip tersebut atas dugaan pelanggaran undang-undang antimonopoli. 

Baca Juga : Wall Street Merosot Karena Lonjakan Pada Sesi Sebelumnya Mereda: Dow Jones Industrial Average Ditutup Melemah 68,42 Poin

BACA: Kurs Rupiah Melemah 0,14% di Level Rp15.867 Per Dolar AS Sore Ini

Penurunan harga saham Nvidia menyeret sektor teknologi informasi turun 0,45%.

Advanced Micro Devices turun 5,7% setelah BofA Global Research menurunkan peringkatnya pada saham tersebut. Alhasil, Philadelphia Semiconductor Index turun 0,87%.

Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global

"Pasar sedikit terkejut mengenai penyelidikan China (Nvidia) sebagai kemungkinan pelanggaran undang-undang antimonopoli. Jadi itu salah satu hal yang sedikit meredam pasar," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research di New York seperti dikutip Reuters.

BACA: Kurs Rupiah Melemah Tipis 0,07% Berada di Rp 15.856 per Dolar AS Pagi Ini

Sembilan dari 11 sektor S&P 500 melemah, dipimpin oleh penurunan saham keuangan.

Baca Juga : IHSG Berpotensi Bangkit, Sentimen Global Membaik Usai Sinyal AS Mundur dari Konflik Iran

Harga saham Comcast merosot 9,5% setelah memperkirakan kerugian lebih dari 100.000 pelanggan pita lebar pada kuartal keempat. Penurunan harga saham Comcast menekan sektor layanan komunikasi sebesar 1,3%.

Harga saham Hershey melonjak 10,9% menyusul laporan media bahwa induk perusahaan Cadbury, Mondelez, sedang menjajaki akuisisi produsen cokelat tersebut. Harga saham Mondelez turun 2,3%.

Investor mengantisipasi data indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pada hari Rabu, bersama dengan indeks harga produsen (PPI) pada hari Kamis. Kedua data dirilis menjelang pertemuan Federal Reserve pada tanggal 17-18 Desember.

Baca Juga : Wall Street Pecahkan Rekor, Dolar AS Menguat

Taruhan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang melonjak hingga lebih dari 85%. 

Setelah data pada hari Jumat menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,2% pada bulan November. Data pengangguran mengindikasikan pasar tenaga kerja yang melambat.

Beberapa pejabat Fed, termasuk Ketua Jerome Powell, menekankan kehati-hatian mengenai pendekatan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter karena ketahanan ekonomi.

Indeks utama Wall Street memulai Desember dengan catatan positif. Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq yang sarat teknologi keduanya naik pada minggu pertama periode 2-6 Desember.

Sedangkan indeks Dow yang merupakan saham unggulan mengakhiri minggu sedikit lebih rendah.

Pada hari Senin, harga saham Workday naik 5,1% setelah S&P Dow Jones Indices mengatakan minggu lalu bahwa perusahaan tersebut akan ditambahkan ke indeks S&P 500.

Harga saham Interpublic Group naik 3,6% menyusul laporan bahwa raksasa pemasaran Omnicom tengah dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi perusahaan periklanan tersebut. Saham Omnicom turun 10,3%.

Saham AS melonjak pada bulan November setelah Donald Trump memenangkan pemilihan presiden dan partainya mengamankan kendali atas kedua majelis Kongres. 

Kemenangan yang merata ini meningkatkan ekspektasi untuk agenda kebijakan yang lebih ramah bisnis.