Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara di wilayah Yaman selatan pada Rabu (7/1/2026). Operasi tersebut menyasar pasukan separatis Dewan Transisi Selatan Yaman (Southern Transitional Council/STC) yang selama ini diketahui mendapat dukungan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan ini dilakukan menyusul laporan bahwa pemimpin STC, Aidaros Alzubidi, tidak menghadiri agenda perundingan damai di Riyadh, Arab Saudi, dan diduga melarikan diri ke lokasi yang belum diketahui.
Mengutip laporan Al Jazeera, koalisi Saudi melancarkan serangan pendahuluan terbatas di Provinsi Al-Dhale, Yaman selatan. Langkah tersebut disebut sebagai upaya mencegah eskalasi konflik yang dinilai tengah dipersiapkan oleh kelompok separatis.
Baca Juga : IRGC Nyatakan Kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Mojtaba Khamenei
Alzubidi sebelumnya dijadwalkan berangkat dari Aden menuju Riyadh pada Selasa (6/1) malam untuk membahas upaya meredakan bentrokan antara STC dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Namun, ia dilaporkan tidak menaiki pesawat sesuai jadwal.
Koalisi menyatakan bahwa Alzubidi justru meninggalkan Aden dan memobilisasi pasukan bersenjata dalam jumlah besar.
“Termasuk kendaraan lapis baja, senjata berat dan ringan, serta amunisi,” tulis pernyataan resmi koalisi.
Baca Juga : Kim Jong Un Ziarah ke Makam Ayahnya di Hari Ulang Tahun Kim Jong II
Menurut koalisi, pergerakan pasukan STC terdeteksi meninggalkan Aden sekitar tengah malam dan bergerak menuju wilayah Al-Dhale. Serangan udara pun dilancarkan sekitar pukul 04.00 waktu setempat untuk melumpuhkan kekuatan separatis dan menggagalkan upaya peningkatan konflik.
Dikutip dari AFP, koalisi Saudi menegaskan operasi tersebut dilakukan atas koordinasi dengan pemerintah Yaman dan otoritas lokal guna menjaga stabilitas keamanan di wilayah selatan negara itu.
STC Bantah Tuduhan dan Desak Penghentian Serangan
Baca Juga : Kepala Staf Angkatan Darat Libya Tewas dalam Insiden Jatuhnya Pesawat Jet Pribadi di Turki
Di sisi lain, pihak STC mengeluarkan pernyataan yang meminta Arab Saudi menghentikan serangan udara. Kelompok separatis itu juga mengklaim kehilangan kontak dengan delegasi mereka yang telah berada di Riyadh.
STC membantah tudingan koalisi dan menyebut Alzubidi masih berada di Aden untuk memantau operasi militer dan keamanan di lapangan.
STC sebelumnya merupakan sekutu pemerintah Yaman dalam menghadapi pemberontak Houthi yang didukung Iran di wilayah utara. Namun, sejak Desember 2025, kelompok tersebut berbalik melawan pemerintah Yaman dengan tujuan mendirikan negara merdeka di Yaman selatan.
Baca Juga : Sejumlah Jet Tempur India Jatuh dalam Konflik Bersenjata dengan Pakistan
Kelompok separatis itu sempat menguasai sejumlah wilayah strategis, termasuk Provinsi Hadramout dan Mahra, yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran Riyadh dan berujung pada serangan udara Saudi di Pelabuhan Mukalla pada 30 Desember 2025.
Arab Saudi menuding adanya pengiriman senjata terkait UEA, tuduhan yang dibantah Abu Dhabi. UEA menyatakan komitmennya terhadap keamanan Saudi dan mengumumkan berakhirnya “misi kontra-terorisme” di Yaman.
Didukung serangan udara Saudi, pasukan pemerintah Yaman akhirnya berhasil merebut kembali Hadramout dan Mahra. Meski STC menyatakan kesiapan mengikuti perundingan damai, Alzubidi justru dicopot dari Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman oleh Ketua Dewan Presiden Rashad al-Alimi, dengan tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.
Baca Juga : Gagal Move On, Seorang Pria Nekat Memblokir dan Mengacaukan Pesta Pernikahan Mantan Kekasihnya
Konflik di Yaman pun semakin kompleks, seiring perpecahan di antara sekutu lama yang sama-sama terlibat dalam perang berkepanjangan sejak 2014.
(Dra/nusantaraterkini.co).
