Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Komisi X Kecam Kekerasan Anak Polisi Terhadap Wakepsek SMAN 1 Sinjai

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani. (Foto: DPR)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Oknum anggota polisi bernama Aiptu Rajamuddin, melakukan tindakan kekerasan terhadap Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) SMAN 1 Sinjai, di Sulawesi Selatan.

Hal ini terjadi lantaran sang ayah tidak terima anaknya yang bersekolah disana itu sering dilaporkan bolos sekolah.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB Lalu Hadrian Irfani mengecam kasus kekerasan yang dialami oleh guru.

Lalu Ari, sapaan akrab Lalu Hadrian Irfani menilai peristiwa tersebut bukan hanya mencederai martabat guru, tetapi juga menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Guru adalah figur mulia yang harus dihormati.

Baca Juga : Sekolah Gratis Tingkat SMA/SMK se Sumut Mulai Jalan 2026, Bertahap dari Kepulauan Nias, Pantai Barat..

"Ketika seorang siswa dengan berani melakukan kekerasan kepada gurunya, terlebih di depan orang tua yang justru berprofesi sebagai aparat penegak hukum, ini adalah bentuk degradasi moral yang sangat serius,” tegasnya, Kamis (18/9/2025).

Kasus di Sinjai ini muncul tidak lama setelah publik digemparkan oleh pencopotan Kepala SMPN 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah. Roni diberhentikan hanya karena menegur siswa yang membawa mobil ke sekolah.

Belakangan terungkap bahwa siswa tersebut merupakan anak Walikota Prabumulih, Arlan. Namun, pencopotan itu akhirnya dibatalkan.

“Dua kasus ini memperlihatkan pola yang berbahaya: guru menjadi korban intimidasi, kekerasan, bahkan pencopotan jabatan hanya karena melaksanakan tugas mendidik dan menegakkan disiplin. Jika dibiarkan, siapa yang akan berani lagi menegur siswa? Bagaimana wibawa pendidikan bisa tegak?," ujar Lalu Ari.

Legislator NTB II itu menegaskan, Komisi X DPR akan berdiri di garis depan membela hak dan martabat para guru. Selama guru melakukan tugasnya dengan baik, maka mereka harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan.

Baca Juga : Pemerintah Diminta Jamin Inklusifitas dan Kualitas Sekolah Garuda

“Saya siap pasang badan untuk melindungi guru. Mereka tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi tekanan dari siswa maupun pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan. Negara wajib hadir memberikan perlindungan penuh,” tegasnya.

Dia juga mendesak aparat kepolisian untuk bersikap profesional dan menindak tegas kasus pemukulan guru di Sinjai. Siswa yang memukul gurunya harus diproses hukum sesuai aturan.

Ayahnya yang seorang polisi, yang malah membiarkan kejadian itu, juga harus diperiksa. Jangan sampai ada kesan hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Bekas anggota DPRD NTB ini juga mengingatkan pentingnya memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Menurutnya, pendidikan tidak hanya sebatas nilai akademis, tetapi juga pembentukan moral, etika, dan rasa hormat kepada guru. 

Baca Juga : Komisi X Ingatkan Pentingnya Evaluasi Berkala soal Rencana Prabowo Bangun 500 Sekolah Rakyat Per Tahun

“Jika guru saja tidak dihargai, itu tanda ada yang keliru dalam sistem pendidikan kita. Karena itu, perlu ada penguatan peran guru sekaligus payung hukum yang jelas agar mereka tidak takut menegakkan disiplin,” ungkapnya.

Lalu Ari mengajak masyarakat, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan untuk kembali menempatkan guru pada posisi terhormat.

"Guru adalah teladan, bukan sasaran amarah. Jika bangsa ini ingin maju, hormatilah guru," tandasnya.

(cw1/nusantaraterkini.co)