nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan Jumat (24/10/2025), seiring penguatan indeks dolar dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.15 WIB, rupiah dibuka di posisi Rp16.625 per dolar AS, melemah 0,02% dibandingkan penutupan Kamis (23/10/2025) di level Rp16.629 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik ke posisi 99,00, menguat 0,07%.
Sejumlah mata uang Asia juga menunjukkan pergerakan bervariasi. Ringgit Malaysia dan rupee India masing-masing menguat 0,03% dan 0,09%, sedangkan won Korea naik 0,27%. Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,18%, diikuti dolar Singapura (-0,04%) dan baht Thailand (-0,09%).
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.043 per Dolar AS, Tertekan Rebound Greenback
Dolar AS Kuat, Sentimen Pasar Global Menegang
Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan langkah pemerintah AS yang kembali menekan Rusia agar menyetujui gencatan senjata di Ukraina.
“Eskalasi ketegangan global membuat investor mencari aset aman seperti dolar AS,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).
Baca Juga : Rupiah Tersungkur ke Rp17.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Makin Berat
Di sisi lain, kebijakan pemerintahan Donald Trump yang berencana membatasi ekspor perangkat lunak ke China turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan global. Kebijakan ini dianggap sebagai balasan atas langkah Beijing memperketat ekspor tanah jarang, yang menjadi komponen penting dalam industri teknologi.
Selain itu, penutupan sebagian pemerintah AS (government shutdown) yang telah memasuki hari ke-22 menjadi yang terpanjang kedua dalam sejarah, menambah ketidakpastian arah kebijakan fiskal Negeri Paman Sam.
Pasar Menanti Keputusan The Fed dan Data Inflasi
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada
Pelaku pasar kini memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29–30 Oktober 2025. Namun, data inflasi dan Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang akan dirilis dalam waktu dekat bisa menjadi faktor penentu arah kebijakan moneter berikutnya.
Tekanan dari Arus Modal Keluar
Dari dalam negeri, pernyataan Bank Indonesia (BI) terkait derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) turut membebani rupiah.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar
Sejak September hingga 20 Oktober 2025, aliran investasi portofolio mencatat net outflow sebesar US$5,26 miliar. BI pun melakukan intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan NDF untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.620–Rp16.680 per dolar AS,” kata Ibrahim.
(Dra/nusantaraterkini.co)
