Nusantaraterkini.co, Jakarta - Menjelang pelantikan Trump, pasar saham Indonesia sedang kembali bergairah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat dalam tiga perdagangan beruntun ke posisi 7.154,65, dengan mengakumulasi kenaikan 0,93% sepanjang pekan lalu.
Lonjakan tertinggi terjadi pada perdagangan Rabu (15/1), ketika IHSG melejit 1,77% setelah Bank Indonesia secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis points.
BACA: Analis Pasar: IHSG Bergerak Fluktuatif dan Berpeluang Melanjutkan Pola Minor Bullish Reversal
Baca Juga : IHSG Menguat 55,57 Poin Bertengger di Level 7.909,63
Reyhan memperkirakan dalam jangka pendek IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan.
Asalkan, IHSG mampu menembus level resistance 7.197 untuk menguji resistance berikutnya di area 7.277 dengan support di posisi 7.077.
Sementara Ekky melihat sentimen penurunan suku bunga BI masih membawa angin segar, sehingga terbuka peluang bagi IHSG menuju level 7.300 dalam sepekan ke depan, dengan support di level psikologis 7.000.
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Menguji Level 7.680 di Perdagangan Selasa (12/8/2025)
BACA: IHSG Bertengger di Zona Hijau Naik 47,14 Poin Ke Level 7.154,66 Sore Ini
Sedangkan Tristan memperkirakan IHSG masih sideways dalam sepekan ke depan dalam rentang 7.025 - 7.231.
"Kami masih belum memiliki ekspektasi tinggi, karena sentimen BI Rate ini belum terlalu kuat untuk meningkatkan IHSG ke level nilai berikutnya," jelas Tristan.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan
Vice President Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memprediksi IHSG akan bergerak mixed cenderung menguat dalam sepekan ke depan.
BACA: IHSG Bertengger di Zona Hijau Menguat 50,079 Poin ke Level 7.006,744
Hanya saja, IHSG masih perlu mengkonfirmasi breakout sideways ke atas level 7.190, dengan rentang pergerakan pada area support 6.965 dan resistance di 7.254.
Baca Juga : IHSG Tertekan Sepekan, Turun 2,42% — Kapitalisasi Pasar Susut ke Rp12.382 Triliun
Di tengah sentimen pelantikan Trump serta dinamika pasar dan harga komoditas global, Audi melihat sektor energi menarik dicermati.
Selain itu, saham emiten konglomerasi dari Grup MNC berpotensi terdampak spekulasi pasar, mengingat kedekatan bos MNC Hary Tanoesoedibjo dengan Donald Trump.
BACA: IHSG Bergerak Liar Naik Tipis 4,476 Poin ke Level 7.021,355 di Perdagangan Selasa (14/1/2025)
Baca Juga : IHSG Hari Ini Terancam Lanjut Melemah, Picu Tekanan Pasar
Tapi, Audi menaksir sentimen tersebut hanya bersifat jangka pendek. Praska turut menyoroti kenaikan sejumlah saham Grup MNC pada akhir pekan lalu, yang kemungkinan terdongkrak oleh sentimen jangka pendek menjelang pelantikan Trump.
Reyhan pun melihat sentimen pelantikan Trump pada saham Grup MNC. Reyhan menyarankan hold saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan buy PT Global Mediacom Tbk (BMTR).
Saham MNCN berpotensi menguji resistance Rp 302 dengan support di Rp 288. Sedangkan BMTR berpotensi menguji resistance Rp 200 dengan support di Rp 184.
Baca Juga : IHSG Melonjak 6,14% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp13.189 Triliun
Sementara itu, Ratih memperhatikan saham komoditas energi dan tambang mineral-logam, terutama batubara dan emas.
Sebab, penjualan batubara Indonesia dominan ke pasar Asia, khususnya China dan India yang merupakan bagian dari pionir BRICS.
Di samping itu, depresiasi nilai tukar rupiah juga akan menguntungkan sektor yang berbasis ekspor seperti batubara.
Selain itu, Ratih juga melirik komoditas emas yang secara harga bergerak di level US$ 2.600 - US$ 2.700 per troi ons, di tengah volatilitas ekonomi global sebagai aset safe haven.
Ratih menyematkan rekomendasi buy untuk saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Timah Tbk (TINS). Target harga masing-masing berada di area resistance Rp 9.400, Rp 430 dan Rp 1.140.
Audi menyarankan trading buy MNCN dengan target harga di Rp 330. Kemudian, speculative buy saham PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Serta buy PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk target harga masing-masing di Rp 960, Rp 3.070 dan Rp 10.400.
Tristan menjagokan saham emiten batubara dan properti untuk sepekan ke depan. Saham yang layak dicermati adalah AADI, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Tristan juga melirik saham konglomerasi seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Sementara Praska menjagokan saham minyak dan gas, batubara, perbankan, ritel, tambang mineral, dan kelapa sawit. Saham pilihannya adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA).
