Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah hingga terkena trading halt pada perdagangan kemarin.
Kondisi ini mencerminkan kepanikan pasar terhadap kebijakan pemerintah, salah satunya beban fiskal besar yang tidak ditopang oleh manajemen teknokratis yang kuat.
Lalu apa dampaknya bagi perekonomian nasional jika hal tersebut sering terjadi. Dan bagaimana caranya agar para investor tetap percaya kepada Pemerintah di tengah situasi politik ekonomi Indonesia yang dinamis.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global
Menanggapi itu, Pengamat Hukum dan Pembangunan Hardjuno Wiwoho, menilai kejatuhan IHSG bukan sekadar reaksi terhadap belanja negara yang agresif, tetapi juga akibat melemahnya ketidakpastian hukum.
Terlebih, maraknya kasus korupsi juga memperburuk sentimen pasar terhadap tata kelola negara.
"Pasar butuh kepastian bahwa negara ini bisa dikelola dengan baik. Namun, sistem politik kita justru melahirkan lebih banyak politisi pragmatis dibanding teknokrat andal. Akibatnya, kebijakan yang diambil cenderung populis," kata Hardjuno, Kamis (20/3/2025).
Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Melemah ke 6.951, Bursa Asia Bergerak Variatif di Awal Perdagangan
Ia mengatakan, krisis kepercayaan yang sedang terjadi ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan janji politik atau penyesuaian kebijakan fiskal.
Menurutnya, pasar membutuhkan bukti nyata bahwa pemerintah serius dalam membangun tata kelola yang bersih dan profesional.
"Salah satu cara paling cepat dan konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar adalah mengesahkan UU Perampasan Aset. UU ini bukan sekadar instrumen hukum, tapi sinyal bagi pasar bahwa pemerintah serius melawan korupsi dan membangun kembali budaya teknokrasi," tegasnya.
Pengaruhi Investor Retail
Sedangkan, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance Andry Satrio Nugroho menilai pelemahan IHSG kali ini akan berdampak besar pada investor retail.
Menurut catatan BEI hingga akhir 2024, terdapat sekitar 6 juta investor retail dari total 14 juta yang berada di pasar modal.
Jika investor retail merugi, sambung Andry, artinya nanti akan ada banyak tekanan kepada masyarakat dengan ekonomi kelas menengah. Terutama, jika harga saham yang turun telah mempengaruhi konsumsi rumah tangga.
“Kalau terlalu banyak orang mengalami kerugian di pasar saham, mereka bisa mulai menahan belanja yang pada akhirnya bisa menekan pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Andry.
Sinyal Peringatan
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Dhakiri menilai anjloknya IHSG mencerminkan kekhawatiran pasar yang semakin dalam terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
“Pasar saham dan ekonomi nyata sedang menghadapi tekanan serius. Investor kehilangan kepercayaan, masyarakat menahan belanja. Jika ini berlanjut, dampaknya akan semakin luas,” ujar Wakil Hanif Dhakiri.
Kondisi ini menurutnya adalah sinyal peringatan. Pasar saham jatuh karena ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lemah, sementara deflasi mencerminkan kurangnya permintaan di sektor riil. Investor butuh kepastian kebijakan, sementara masyarakat butuh kepastian ekonomi.
“Stimulus ekonomi harus segera dipercepat. Bantuan sosial, insentif pajak, serta pencairan THR harus berjalan tepat waktu untuk menopang daya beli,” tegasnya.
Hanif yang juga bekas Menaker ini menegaskan, pemerintah harus bergerak cepat dan presisi. Kepercayaan pasar harus dipulihkan, investasi harus didorong, dan kebijakan moneter serta fiskal harus selaras agar ekonomi tidak semakin terpuruk.
"Ekonomi butuh kepastian, bukan sekadar wacana. Jika tidak ditangani dengan tepat, kita bisa menghadapi perlambatan yang lebih dalam,” pungkas legislator dapil Jatim ini.
(cw1/nusantaraterkini.co)
