nusantaraterkini.co, MEDAN - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana membangun pabrik percontohan pengolahan bahan baku susu ikan, Hidrolisat Protein Ikan (HPI) di Pekalongan, Jawa Tengah.
Rencananya, pembangunan ini dengan investasi mencapai Rp 8 miliar.
Direktur Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen PDSPKP, Widya Rusyanto, mengatakan saat ini pabrik HPI sudah ada di Indramayu, Jawa Barat, beserta pabrik pengolahan HPI menjadi susu ikan di Bekasi milik PT Berikan Bahari Indonesia.
Baca Juga : Proyek Strategis Lobster di Batam Sokong Hidangan Tahun Baru Imlek 2577
Perusahaan Berikan Bahari Indonesia sudah memproduksi susu ikan dengan merek Surikan. Produk susu bubuk tersebut sebenarnya sudah diluncurkan sejak Agustus 2023 lalu.
"KKP dalam waktu dekat ini akan membangun unit HPI di Pekalongan, Insyaallah mudah-mudahan di November akhir sudah bisa trial dan bisa membuat produk HPI," ujarnya saat konferensi pers di pabrik pengolahan susu ikan di Indramayu, Rabu (18/9/2024).
Pabrik tersebut nantinya tetap disupervisi oleh Founder Berikan Bahari Indonesia, Yogi Arie, dan menggunakan teknologi pangan yang sama dengan pabrik di Indramayu. Widya menilai, teknologi tersebut mampu menjaga ikan tetap segar untuk diolah menjadi HPI.
Baca Juga : Anggaran KKP 2026 Naik Rp13 T, DPR Usul Bangun 1.500 Kapal Nelayan Merah Putih
"Ikan segar adalah kunci dari proses pembuatan HPI. Kalau ikannya tidak segar HPI-nya itu tidak akan jadi. Karena memang sudah rusak tidak bisa diolah," tutur Widya.
Widya menjelaskan, pabrik HPI di Pekalongan akan menjadi percontohan pertama unit pengolahan HPI oleh KKP. Pabrik tersebut mulai dibangun akhir bulan ini, dan diharapkan bisa beroperasi mulai Desember 2024.
Pabrik HPI tersebut rencananya berkapasitas 2 ton per bulan, jauh lebih kecil dari pabrik HPI di Indramayu yang bisa memproduksi 30 ton per bulan. Widya menyebutkan investasinya sebesar Rp 8 miliar dan akan dibangun secara terintegrasi dengan hilirnya.
Baca Juga : KKP Buka 20 Ribu Lebih Lowongan Awak Kapal, Ini Posisi yang Dibutuhkan
"Lebih besar Indramayu, investasinya kita cuma Rp 8 miliar," ungkap Widya.
Tak sampai di situ, Widya juga berharap industri susu ikan bisa dibangun di wilayah Indonesia timur yang memiliki ikan melimpah namun belum termanfaatkan dengan maksimal.
"Nanti kalau sudah berhasil bisa bangun di tempat lain. Terutama di daerah-daerah timur. Di daerah timur yang ikannya tidak banyak terpakai dan tidak bisa dikirim ke Jawa," jelasnya.
Baca Juga : DPR Desak KKP Kembalikan PNBP VMS untuk Nelayan Kecil
Pasalnya, kata Widya, ikan-ikan di perairan Papua bernilai tinggi namun tidak diolah dengan baik. Misalnya masyarakat setempat hanya mengambil gelembung renang saja.
"Di Papua itu ada ikan yang cuma diambil gelombang renangnya. Sisanya dibuang. Ikan mayung sebesar-besar gini, itu cuma diambil gelombang renang di laut dibuang. Sayang kan? Kalau misalnya kita bawa ke darat, kita potong, kemudian kita jadikan HPI kan nilainya lebih tinggi," pungkasnya.
(Dra/nusantaraterkini.co).
