Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Awali 2026 dengan Koreksi Tipis, Pasar Cermati Arah Dolar AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan perdana tahun 2026 dengan pelemahan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (2/1/2026), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.680 per dolar AS, melemah tipis 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.670 per dolar AS.

Meski bergerak di zona merah, tekanan terhadap rupiah terbilang moderat, terutama setelah mata uang Garuda sempat mencatat penguatan signifikan 0,51% pada sesi perdagangan terakhir 2025.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru menunjukkan pelemahan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di level 98,166, turun 0,16%, sekaligus mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama empat hari berturut-turut.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Pergerakan rupiah di awal 2026 masih dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, melemahnya dolar AS di pasar internasional menjadi katalis positif jangka pendek bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sepanjang 2025, indeks dolar tercatat merosot sekitar 9%, menjadi penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir. Tren tersebut berlanjut memasuki awal 2026, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve.

Selain faktor suku bunga, pasar global juga dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan AS serta kekhawatiran atas independensi bank sentral di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi krusial AS pada pekan mendatang, termasuk laporan non-farm payroll dan klaim pengangguran. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi kekuatan pasar tenaga kerja AS sekaligus arah kebijakan suku bunga sepanjang 2026.

Saat ini, konsensus pasar mulai mengarah pada potensi dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, lebih agresif dibandingkan proyeksi resmi bank sentral yang masih terbelah. Sentimen ini membuat bias kebijakan moneter AS dinilai condong ke arah pelonggaran.

Dari dalam negeri, rupiah mendapat dukungan dari kinerja sektor manufaktur yang tetap berada di jalur ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global pada Desember 2025 tercatat di level 51,2, meski melandai dari 53,3 pada November.

Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global

Posisi PMI di atas level 50 menandakan aktivitas industri masih berkembang selama lima bulan berturut-turut. S&P Global mencatat pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pesanan baru, sementara output tetap meningkat meski dengan laju yang lebih moderat.

Kondisi ini mencerminkan daya tahan permintaan domestik di sektor riil, yang dinilai mampu menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di awal 2026. Sentimen positif tersebut berpotensi menjadi bantalan bagi pergerakan rupiah di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Baca Juga : Rupiah Bergerak Datar, Tekanan Pasar Obligasi dan Sentimen Moody’s Masih Membayangi