Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot memulai perdagangan Rabu (1/4/2026) dengan penguatan. Hingga pukul 09.07 WIB, rupiah tercatat di level Rp16.974 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,39% dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.041 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga bergerak positif terhadap dolar AS. Peso Filipina memimpin penguatan dengan kenaikan 0,62%, diikuti won Korea Selatan sebesar 0,58% dan dolar Taiwan 0,43%.
Rupiah berada di tengah-tengah penguatan regional bersama ringgit Malaysia yang naik 0,34%, yuan China 0,16%, serta dolar Singapura 0,13%. Sementara itu, dolar Hong Kong mencatat kenaikan tipis.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada
Di sisi lain, yen Jepang dan baht Thailand justru mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,006% dan 0,17% terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS yang turun ke level 99,82 dari posisi sebelumnya 99,96. Pelemahan indeks dolar memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat.
Meski demikian, prospek rupiah sepanjang hari diperkirakan masih berfluktuasi. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar
Menurut Ibrahim, ketidakpastian global menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut telah mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sekitar 59% sepanjang Maret.
Situasi diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah serta ancaman dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap infrastruktur energi Iran.
“Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor mencari aset aman, sehingga memperkuat dolar AS,” jelas Ibrahim.
Baca Juga : Rupiah Menguat ke Rp 16.988 per Dolar AS, Awali Perdagangan dengan Tren Positif
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,1% hingga 5,2%. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, didorong momentum Ramadan dan Idulfitri serta pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Indikator domestik juga masih menunjukkan daya tahan ekonomi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari berada di level 125,2, sementara PMI manufaktur tercatat ekspansif di angka 53,8.
Namun, tantangan tetap ada. Perlambatan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) serta melemahnya kinerja ekspor menjadi faktor penghambat pertumbuhan.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 4 November 2025: Tertekan Sentimen Global
“Meskipun konsumsi domestik cukup kuat, struktur pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya sehat jika investasi terus melambat,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, tekanan global akibat konflik di Timur Tengah berpotensi terus memengaruhi pasar keuangan dan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
(Dra/nusantaraterkini.co).
