Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Diproyeksi Melemah Hari Ini, Pasar Cermati Sentimen Global dan Prospek Ekonomi 2026

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 23 Desember 2025. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.810 per dolar AS, seiring meningkatnya sentimen global dan kehati-hatian pelaku pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya melemah 0,16 persen atau 27 poin ke level Rp16.777 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru ditutup melemah tipis 0,05 persen ke posisi 98,55.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Salah satu sentimen utama datang dari meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

“Eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko menghambat produksi minyak di beberapa negara kawasan tersebut,” ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (22/12/2025).

Selain faktor geopolitik, pasar global juga tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menjelang akhir tahun. Data yang menjadi perhatian antara lain pertumbuhan ekonomi kuartal III, pesanan barang tahan lama Oktober, serta data produksi industri periode Oktober dan November. Rilis data tersebut dinilai akan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mulai mencermati proyeksi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Ibrahim menilai perekonomian nasional masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat, baik dari sisi global maupun domestik, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

Ia mengungkapkan bahwa berbagai lembaga internasional memproyeksikan kondisi ekonomi global pada 2026 tidak akan lebih baik dibandingkan 2025. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi negara mitra dagang, meningkatnya ketidakpastian perdagangan global, serta dinamika geopolitik yang masih berlanjut.

Tantangan lain yang perlu diwaspadai adalah pelemahan daya beli kelas menengah, risiko inflasi pangan, serta potensi penurunan investasi asing, khususnya di luar sektor hilirisasi.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen. Untuk mendorong pertumbuhan di atas 5 persen, diperlukan penguatan sektor manufaktur dan jasa, peningkatan efektivitas stimulus ekonomi, serta perbaikan tata kelola fiskal yang lebih solid.

Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.881 per Dolar AS, Tertekan Pergerakan Mata Uang Asia

(Dra/nusantaraterkini.co)