Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (13/4/2026). Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia, dolar AS tercatat berada di level Rp17.197,56 untuk harga jual dan Rp17.026,44 pada harga beli.
Pelemahan ini terbilang terbatas, namun tetap mencerminkan adanya tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Pergerakan rupiah saat ini tidak lepas dari kuatnya pengaruh dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Sejumlah faktor eksternal menjadi pendorong utama, di antaranya ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang cenderung bertahan tinggi, penguatan indeks dolar, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu pergeseran arus modal global.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada
Dari dalam negeri, stabilitas rupiah juga ditentukan oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Faktor seperti tingkat inflasi, kinerja neraca perdagangan, serta arus masuk investasi asing turut memengaruhi arah pergerakan mata uang Garuda.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan bauran kebijakan moneter.
Sejumlah analis menilai pelaku pasar saat ini masih cenderung berhati-hati. Investor memilih menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan, baik dari otoritas moneter global maupun domestik, sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif. Sentimen global diproyeksikan tetap menjadi faktor dominan, sementara respons kebijakan dalam negeri akan menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
(Dra/nusantaraterkini.co)
