Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Melemah di Pembukaan, Mata Uang Asia Kompak Bergerak Fluktuatif

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibuka tertekan pada awal perdagangan Jumat (28/11/2025). Mengacu data Bloomberg, rupiah memulai sesi di posisi Rp16.641 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah tipis 0,03 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.636 per dolar AS.

Sejumlah mata uang di kawasan Asia pun bergerak campuran terhadap dolar. Won Korea Selatan tercatat mencatat pelemahan terdalam setelah tergelincir 0,12 persen. Disusul dolar Taiwan yang turun 0,05 persen, serta yen Jepang yang melemah 0,03 persen.

Sementara itu, dolar Hong Kong ikut terkoreksi tipis 0,01 persen, dan yuan China bergerak mendatar.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Sebaliknya, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi di kawasan, naik 0,1 persen. Dolar Singapura serta baht Thailand menguat 0,02 persen, dan peso Filipina menguat tipis 0,03 persen.

Menurut riset Samuel Sekuritas, pergerakan rupiah hari ini akan dibayangi sejumlah faktor eksternal dan domestik. Dari global, pasar mencermati rencana pergantian Gubernur The Fed, arah kebijakan moneter AS, serta prospek pemangkasan suku bunga acuan. Kondisi makro AS yang masih penuh ketidakpastian membuat volatilitas rupiah sulit dihindari.

Di sisi domestik, tekanan juga datang dari respons pemerintah terhadap bencana alam yang dapat mengerek beban anggaran, termasuk biaya adaptasi perubahan iklim. Selain itu, isu impor ilegal serta kepatuhan di sektor penerbangan menunjukkan perlunya koordinasi lintas lembaga.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertekan ke Rp17.385 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Baru

Pasar turut menunggu pengumuman kebijakan upah 2026 yang tertunda. Keputusan ini diperkirakan menjadi salah satu katalis bagi pemulihan indeks kepercayaan konsumen, setelah sempat melemah pada September dan sedikit pulih di Oktober.

(Dra/nusantaraterkini.co)