Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat ke Rp16.892 per Dolar AS, Tapi Bayang-bayang Konflik Timur Tengah Masih Mengancam

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan nilai tukar Rupiah Indonesia terhadap Dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Meski demikian, sentimen global seperti konflik geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia masih menjadi faktor yang berpotensi menekan pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 11.14 WIB di pasar spot, rupiah tercatat menguat 57 poin atau sekitar 0,34% menjadi Rp16.892 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau turun 0,26% ke posisi 98,91.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah ditutup melemah 24 poin dan berada di level Rp16.949 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pelaku pasar cenderung sangat responsif terhadap perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah serta pergerakan harga minyak global.

Menurut Josua, pada perdagangan hari ini rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan meski fluktuasinya relatif terbatas.

“Rupiah kemungkinan bergerak dalam kisaran Rp16.825 hingga Rp16.975 per dolar AS,” ujar Josua dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

Ia menambahkan, level Rp17.000 per dolar AS kini menjadi ambang psikologis yang cukup penting bagi pasar. Jika sentimen global tidak segera membaik, nilai tukar rupiah berpotensi kembali mendekati bahkan menembus level tersebut.

Tekanan utama saat ini berasal dari faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat yang memicu lonjakan harga energi.

Harga minyak dunia sempat melonjak hingga menembus US$115 per barel dalam sesi perdagangan Asia, dan masih bertahan di atas US$100 per barel pada awal pekan ini.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Terbatas di Kisaran Rp17.100–Rp17.200, Pasar Masih Wait and See

Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global. Selain itu, pasar juga mulai mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.

Di kawasan Asia, pola pelemahan mata uang juga terlihat cukup merata. Penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya kehati-hatian investor membuat mata uang regional cenderung tertekan.

Dari dalam negeri, Josua menyebut ada sejumlah faktor yang turut memberi tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal setelah defisit anggaran Februari 2026 melebar menjadi sekitar 0,50% dari produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, kenaikan imbal hasil surat utang negara, penurunan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah, serta melemahnya keyakinan konsumen juga ikut mempengaruhi sentimen pasar.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini membuat ruang untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi relatif terbatas.

Josua juga mengingatkan bahwa jika konflik geopolitik berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap rupiah bisa menjadi lebih signifikan.

Perang yang berkepanjangan berpotensi membuat harga energi tetap tinggi, meningkatkan biaya impor dan logistik, memperbesar tekanan inflasi domestik, serta memperlemah neraca eksternal dan fiskal Indonesia.

Selain itu, ketidakpastian global juga bisa menahan arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

Apabila skenario tersebut terjadi, rupiah berisiko menembus level Rp17.000 per dolar AS dan bertahan pada posisi lemah dalam periode yang lebih lama. Dalam situasi ini, Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan dan tetap mengedepankan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas nilai tukar.

“Ke depan, arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu durasi konflik geopolitik dan perkembangan harga minyak dunia,” kata Josua.

(Dra/nusantaraterkini.co).