Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Level Rp16.725

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan pergerakan positif. Pada perdagangan Senin pagi (22/12/2025), rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.725 per dolar AS atau terapresiasi sekitar 0,06 persen. Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Jumat (19/12/2025), rupiah melemah 0,15 persen ke level Rp16.735 per dolar AS dan sempat menembus area psikologis Rp16.700.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru menunjukkan penguatan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat naik 0,05 persen ke level 98,652. Penguatan ini memperpanjang tren positif dolar AS yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut sejak 17 Desember 2025.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Menguatnya dolar AS mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut berpotensi mendorong arus modal kembali ke Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Situasi ini dapat membuka peluang terjadinya aksi pelepasan aset di pasar emerging market, yang pada akhirnya berpotensi membebani pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.

Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2026 akan bergerak dalam rentang Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS. Proyeksi tersebut lebih lemah dibandingkan estimasi BRIN untuk sepanjang 2025 yang berada di kisaran Rp16.150–Rp16.683 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

“Kami memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2025 berada di rentang Rp16.150 hingga Rp16.683, sementara pada 2026 cenderung melemah ke kisaran Rp16.678 sampai Rp17.098,” ujar Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Pihri Buhaerah, dalam pemaparan Economic Outlook 2026, Senin (22/12/2025).

Menurut BRIN, proyeksi tersebut dipengaruhi oleh masih tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan berpotensi meningkat hingga mendekati 40 persen pada tahun depan. Kondisi ini dinilai dapat memperburuk sentimen investor dan mendorong berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar portofolio, yang berpotensi menekan rupiah lebih lanjut.

(Dra/nusantaraterkini.co)