Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.982, Surplus Perdagangan Jadi Penopang Utama

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).

Nusantaraterkini.co, JAKARTANilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Rupiah naik satu poin atau sekitar 0,01% ke level Rp16.982 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.983.

Penguatan ini didorong oleh kinerja positif neraca perdagangan Indonesia. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut surplus perdagangan yang meningkat menjadi faktor utama penopang rupiah.

“Surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2026 naik menjadi USD 1,27 miliar dari sebelumnya USD 0,95 miliar. Ini terutama dipicu oleh penurunan impor migas,” jelasnya.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tren positif, di mana Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut. Secara kumulatif, surplus Januari hingga Februari 2026 mencapai USD 2,23 miliar.

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai mereda. Inflasi tahunan (year-on-year) pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48%, turun dari 4,76% sebelumnya, dan masih berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 1,5%–3,5%. Penurunan ini turut dipengaruhi meredanya efek basis rendah serta koreksi harga emas.

Dari eksternal, sentimen global juga memberi dukungan. Harapan meredanya konflik di Timur Tengah meningkatkan optimisme pasar, meskipun dinamika geopolitik masih menjadi perhatian.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hasil beragam. ADP Employment naik menjadi 62 ribu pada Maret, melampaui ekspektasi. Penjualan ritel juga tumbuh 0,6% secara bulanan, menandakan konsumsi masih solid.

Namun, indikator manufaktur menunjukkan pergerakan campuran. PMI S&P Global sedikit melemah, sedangkan indeks manufaktur ISM justru menguat.

Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Terbatas di Kisaran Rp17.100–Rp17.200, Pasar Masih Wait and See

Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (1/4/2026), rupiah ditutup menguat signifikan sebesar 58 poin atau 0,34% ke level Rp16.983 dari Rp17.041.

Meski demikian, tekanan eksternal masih membayangi. Research & Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai pergerakan rupiah cenderung fluktuatif akibat penguatan dolar AS, ketidakpastian global, serta kenaikan harga minyak.

“Arus dana global cenderung mengalir ke aset safe haven, sehingga menekan mata uang emerging markets seperti rupiah,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan suku bunga The Fed serta rilis data ekonomi AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah.

Dari dalam negeri, langkah Bank Indonesia melalui instrumen Sekuritas Valas BI (SVBI) dan SUVBI dinilai membantu menjaga stabilitas pasar valas, meskipun belum cukup kuat mengubah tren utama.

“Dalam jangka pendek, faktor global tetap menjadi penentu utama,” pungkasnya.

(Dra/nusantaraterkini.co).