Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menembus level Rp16.955 per dolar Amerika Serikat mendapat sorotan tajam dari DPR.
Anggota Komisi XI DPR Hasanuddin Wahid menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai gejolak pasar global semata, melainkan sinyal serius yang menuntut respons kebijakan cepat, tegas, dan terkoordinasi.
Hasanuddin yang akrab disapa Cak Udin mewanti-wanti Bank Indonesia (BI) agar tidak bersikap pasif dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, stabilitas nilai tukar merupakan fondasi utama ketahanan ekonomi nasional dan kepercayaan pasar, sehingga perlu dijaga melalui kebijakan moneter yang kredibel dan terukur.
“Bank Indonesia harus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing serta penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional,” tegasnya, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Bergerak Dekati Rp 17.000 per Dolar AS
Ia menilai, pelemahan rupiah yang berlarut berpotensi menekan inflasi, memperberat beban utang, serta melemahkan daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi secara serius. Karena itu, BI dituntut responsif dan transparan dalam menyampaikan arah kebijakan agar pelaku pasar tidak terjebak pada spekulasi negatif.
Tak hanya Bank Indonesia, Cak Udin juga menyoroti peran Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Ia menekankan pentingnya disiplin fiskal, khususnya dalam pengelolaan defisit anggaran dan pembiayaan utang secara pruden.
“Kepercayaan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter. Konsistensi dan kehati-hatian fiskal pemerintah juga sangat menentukan. Arah kebijakan fiskal harus tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur itu menegaskan bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter tidak boleh bersifat sektoral atau reaktif. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah harus dihadapi dengan respons terpadu, cepat, dan berkesinambungan.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Rabu 21 Januari 2026 Berpotensi Lanjut Menguat, Ini Saham Rekomendasi Analis
Di sisi lain, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal sebagai solusi jangka menengah dan panjang. Langkah tersebut antara lain melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pengendalian impor strategis, serta optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) agar pasokan valuta asing di dalam negeri tetap terjaga.
“Selama struktur ekonomi kita masih rentan, rupiah akan mudah terguncang oleh gejolak global. Penguatan sektor eksternal adalah kunci agar tekanan terhadap rupiah tidak terus berulang,” pungkasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
