Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sumut Cetak Surplus Perdagangan US$501,42 Juta pada November 2025

Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, pada November 2025 wilayah ini berhasil membukukan surplus sebesar US$501,42 juta.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.coMEDAN – Provinsi Sumatera Utara (Sumut)terus mencatatkan performa positif dalam neraca perdagangan luar negerinya. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, pada November 2025 wilayah ini berhasil membukukan surplus sebesar US$501,42 juta.

"Capaian ini didorong oleh nilai ekspor yang mencapai US887,32 juta, sementara nilai impor tercatat jauh di bawahnya yakni sebesar US$385,91 juta pada bulan yang sama," kata Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, dalam siaran persnya, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga : Sumatera Utara Catat Surplus Perdagangan US$717,54 Juta di Oktober 2025

Kinerja perdagangan sepanjang tahun 2025 juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Secara kumulatif, nilai ekspor Sumut selama periode Januari hingga November 2025 menyentuh angka US$11.357,77 juta, atau mengalami kenaikan signifikan sebesar 15,76 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sektor industri menjadi motor utama penggerak ekspor dengan kontribusi dominan mencapai 93,40 persen terhadap total ekspor daerah.

Di sisi impor, Sumut mencatatkan penurunan sebesar 5,23 persen selama Januari hingga November 2025 dengan total nilai US$4.963,78 juta.

Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama, baik sebagai tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$1.957,91 juta maupun sebagai pemasok impor utama senilai US$1.468,81 juta.

Data BPS Sumut mencatat nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumut pada Januari-November 2025 mencapai US$11.357,77 juta atau naik 15,76 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

Baca Juga : Neraca Perdagangan RI Anjlok, Komisi VI: Cermin Daya Saing Ekspor Lemah

"Kenaikan ekspor tertinggi secara sektoral dipimpin oleh golongan lemak dan minyak hewan atau nabati yang melonjak hingga US$1.042,71 juta atau tumbuh sebesar 27,77 persen," tambah Asim Saputra.

(Emn/Nusantaraterkini.co)