Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Wall Street Ditutup Bervariasi, Indeks Dow Jones Industrial Average Melempem 76,47 Poin 

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wall Street ditutup bervariasi namun indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi, dengan saham terkait teknologi melanjutkan penguatan karena investor menunggu data pekerjaan lebih lanjut.

Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Selasa (3/12/2024) Wall Street ditutup bervariasi namun indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi, dengan saham terkait teknologi melanjutkan penguatan karena investor menunggu data pekerjaan lebih lanjut.

BACA: Analis Pasar: Pelemahan Kurs Rupiah Diramalkan Bisa Menembus Level Rp16.000 Per Dolar AS Tertekan Ancaman Trump untuk Negara BRICS

 Diketahui, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 76,47 poin atau 0,17% menjadi 44.705,53, indeks S&P 500 naik 2,73 poin atau 0,05% ke 6.049,88 dan indeks Nasdaq Composite menguat 76,96 poin atau 0,40% ke 19.480,91.

Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global

Sementara, sentimen yang turut menggerakkan pasar saham Amerika Serikat (AS) juga datang setelah pasar mencerna komentar yang meyakinkan dari para pembuat kebijakan Federal Reserve. 

BACA: IHSG Menguat 102,18 Poin ke Level 7.149,16 di Perdagangan Selasa (3/12/2024) Sesi I Siang Ini

Di sisi lain, dua pejabat pembuat kebijakan The Fed mengatakan, inflasi akan turun ke target 2% bank sentral AS dan bahwa pasar kerja "solid."

Baca Juga : IHSG Berpotensi Bangkit, Sentimen Global Membaik Usai Sinyal AS Mundur dari Konflik Iran

Mereka tidak memberi sinyal apakah akan mendukung pemotongan suku bunga lagi akhir bulan ini. Pada hari Senin, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan, dia cenderung "saat ini" untuk mendukung pemotongan suku bunga lagi bulan ini.

BACA: Kurs Rupiah Melemah 0,29% Berada di Level Rp15.953 Per Dolar AS di Perdagangan Selasa (3/12/2024 Siang Ini

Investor akan mencermati laporan ketenagakerjaan bulanan AS pada hari Jumat. Mereka juga ingin melihat data lain minggu ini, termasuk pembacaan gaji swasta bulan November dan laporan layanan Institute for Supply Management.

Baca Juga : Wall Street Kembali Ditutup Bervariasi dengan Indeks S&P 500 Menguat dan Nasdaq Kembali Melemah

"Pasar agak menunggu data besar, yaitu ISM dan (laporan ketenagakerjaan) pada hari Jumat ... jadi orang-orang agak menunggu," kata Paul Nolte, Senior Wealth Advisor and Market Strategist untuk Murphy & Sylvest di Elmhurst, Illinois.

BACA: Harga Emas Antam Naik Rp5.000 Bertengger di Level Rp 1.514.000 Per Gram di Perdagangan Selasa (3/12/2024)

Sebuah laporan pada hari Selasa menunjukkan lowongan kerja AS meningkat pesat pada bulan Oktober sementara PHK turun paling banyak dalam 1,5 tahun.

Baca Juga : Wall Street Bertengger Di Zona Hijau Terkerek Dari Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Tambahan Oleh The Fed

Pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 72% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan The Fed pada 17-18 Desember, menurut alat FedWatch milik CME Group.

Pada sesi ini, saham Amazon naik. Perusahaan mengumumkan serangkaian platform kecerdasan buatan baru, yang dikenal sebagai model fondasi, pada konferensi tahunan AWS-nya.

Indeks S&P 500 naik 5,7% pada bulan November ketika mantan Presiden AS Donald Trump merebut kembali Gedung Putih dalam pemilihan umum 5 November dan Partai Republiknya menyapu bersih kedua majelis Kongres. Indeks naik sekitar 27% sepanjang tahun ini.

Baca Juga : Wall Street Memerah, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi dan Gejolak Pasar Saham AS

"Ini adalah pasar yang berkinerja sangat baik. Anda ingin pasar berhenti sejenak, beristirahat, dan menunggu katalis lain untuk mendorongnya lebih tinggi," kata Quincy Krosby, Chief Global Strategist LPL Financial di Charlotte, North Carolina.

Saham perusahaan Korea Selatan yang terdaftar di AS melemah, dengan iShares MSCI South Korea ETF melemah.

Hal tersebut terjadi setelah Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengatakan ia akan mencabut deklarasi darurat militer yang telah diberlakukannya beberapa jam sebelumnya.

Saham Tesla melemah setelah data menunjukkan penjualan kendaraan listrik buatan China oleh produsen mobil itu turun 4,3% tahun-ke-tahun menjadi 78.856 pada bulan November.