Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Formappi: Keputusan Lomba Ulang Cerdas Cermat 4 Pilar Justru Tunjukkan Arogansi MPR

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Lucius Karus saat berbicara terkait polemik LCC MPR Kalbar. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, menilai polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang viral telah merusak citra Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Menurut Lucius, langkah MPR yang memutuskan menggelar ulang final lomba justru memunculkan persoalan baru, setelah ditolak oleh peserta dari SMA Negeri 1 Pontianak yang sebelumnya merasa dirugikan dalam perlombaan pertama.

Baca Juga : Revisi UU Polri di DPR Dinilai Janggal, Formappi Soroti Minimnya Transparansi

“Bagaimana mau happy, kasus lomba viral sudah merusak citra MPR. MPR berupaya memperbaiki dengan menggelar lomba ulang, eh malah ditolak peserta yang jadi pusat perhatian sekaligus korban dari lomba pertama,” kata Lucius, Jumat (15/5/2026).

Baca Juga : Formappi: Usulan 1.000 Bioskop Desa Kurang Matang dan Tak Urgen

Ia menilai penolakan tersebut menunjukkan solusi yang ditawarkan MPR tidak menjawab kebutuhan peserta yang merasa dirugikan.

“Itu artinya usulan MPR yang oleh mereka dianggap mungkin solutif justru diabaikan atau ditolak oleh peserta lomba yang dirugikan,” ujarnya.

Baca Juga : Golkar MPR Dukung Penuh Kebijakan Penempatan DHE SDA dan Ekspor Satu Pintu

Lucius mengatakan MPR seharusnya merasa malu karena dinilai gagal membaca inti persoalan dan kegelisahan peserta lomba.

Baca Juga : Harga Sapi Diprediksi Naik, Firman Soebagyo Soroti Biaya Solar Industri dan Ancaman Impor

“MPR harus malu. Malu karena mereka tidak mampu membaca kebutuhan, menangkap inti kegelisahan dari peserta yang dirugikan,” ucapnya.

Ia juga mengkritik keputusan MPR yang dinilai diambil secara sepihak tanpa lebih dulu meminta masukan dari pihak SMA Negeri 1 Pontianak sebagai pihak yang merasa menjadi korban dalam polemik tersebut.

“MPR main putuskan sendiri tanpa meminta masukan atau aspirasi dari SMA 1 Pontianak sebagai korban. Itu cara kerja yang mirip dipraktikkan oleh juri pada lomba pertama,” katanya.

Lebih lanjut, Lucius menilai sikap MPR dalam menangani polemik ini membuat lembaga tersebut terlihat arogan dan tidak mampu menjadi penyelesai masalah.

“MPR tampak sama dengan para juri yang suka-suka saja memutuskan sesuatu walau salah. Jadi ini bad news buat MPR. Mereka tak dianggap sebagai problem solver. Mereka nampak arogan dengan memutuskan sendiri apa yang tak dibutuhkan oleh peserta lomba,” pungkasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)