Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

PON XXI Dongkrak Ekonomi Sumut, Daya Beli Tetap jadi Tantangan

Editor :  Rozie Winata
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Arena Sport Center lokasi PON XXI. (Foto: Aldi Nasution/Nusantaraterkini.co) 

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) mencatatkan lonjakan signifikan pada kuartal III tahun 2024, meski daya beli masyarakat masih menjadi kendala yang perlu diatasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Asim Saputra menyatakan bahwa PON XXI menjadi faktor utama di balik akselerasi pertumbuhan ini.

Baca Juga : Dr Handi Risza: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Sepenuhnya Terasa di Masyarakat

“Dampak dari PON XXI memberikan kontribusi besar sehingga pertumbuhan ekonomi kita secara tahunan mencapai 5,20 persen. Secara kumulatif, ekonomi Sumut tumbuh sebesar 5,01 persen,” jelasnya, Selasa (5/11/2024).

Baca Juga : Siapkan 7.800 Petugas Sensus Ekonomi, Agenda Pendataan Door to Door Dimulai 15 Juni 2026

Asim menambahkan bahwa sektor akomodasi dan makanan-minuman mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni 12,68 persen, seiring dengan peningkatan jumlah kunjungan dan konsumsi terkait ajang olahraga nasional tersebut.

"PON XXI membawa dampak positif, terutama pada sektor-sektor yang melayani kebutuhan konsumsi dan pariwisata,” ujarnya.

Baca Juga : Prabowo Bertemu Jusuf Kalla: Bahas Investasi Rp70 Triliun untuk Swasembada Energi Nasional

Kendati demikian, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyoroti tantangan yang dihadapi Sumut di tengah pertumbuhan tersebut, terutama dari sisi daya beli masyarakat yang masih melemah. Berdasarkan pengamatannya, beberapa sektor penting justru menunjukkan perlambatan.

Baca Juga : Realisasi Investasi Sumsel Triwulan I 2026 Tembus Rp12,96 Triliun, PMDN Jadi Penopang Utama

“Kinerja industri pengolahan di Sumut justru melemah pada kuartal ketiga, dengan pertumbuhan negatif sebesar 2,57 persen, dibandingkan kuartal sebelumnya yang mampu tumbuh 3,67 persen. Sektor pertanian juga hanya tumbuh 1,99 persen secara kuartalan,” ungkapnya, Rabu (6/11/2024).

Menurut Gunawan, kendala daya beli yang lemah ini juga tercermin dari sisi pengeluaran yang mencatat kontraksi tipis sebesar 0,01 persen secara kuartalan, sementara pertumbuhan tahunan (y-on-y) berada di angka 5,47 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga : Sofwan Dedy: Diskon Transportasi saat Libur Sekolah Bisa Gerakkan Ekonomi dan Konsumsi

“Data ini mengindikasikan bahwa meski PON mendorong ekonomi, daya beli masyarakat Sumut masih berada di bawah tekanan, sehingga pemulihan ekonomi belum sepenuhnya stabil,” tutupnya.

Baca Juga : Siasat Bertahan di Tengah Inflasi, Kuliner Murah jadi Oase bagi Mahasiswa dan Pekerja di Medan

(Cw9/Nusantaraterkini.co)