Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR Yandri Susanto menyatakan bahwa perlu adanya kesepakatan dari pemerintah Saudi Arabia dan Indonesia untuk peningkatan kualitas pelayanan penyelengaraan ekosistem haji. Sebagai jamaah haji terbanyak di dunia sebaiknya Indonesia tidak hanya ditangani oleh 1 Syarikah.
"Jamaah haji reguler Indonesia sebaiknya dilayani oleh beberapa syarikah dalam penyelenggaraan haji," ungkapnya, Sabtu (27/7/2024).
Baca Juga : Pansus Haji Diharap Selesaikan Carut Marut Penyelenggaraan Haji
"Perlu adanya syarikah atau pihak lain yang diberikan tanggung jawab dalam melayani jamaah Indonesia. Sehingga dalam evaluasi dapat terlihat mana yang terbaik dari sisi pelayanan, tenda, konsumsi, serta kesesuaian dengan rukun haji," lanjutnya.
Baca Juga : Gagas Revolusi Penyelenggaraan Haji, Cak Imin Urai 5 Temuan Timwas DPR
Kemudian Yandri juga menyampaikan bahwa sebaiknya Pemerintah Saudi dan Indonesia bersepakat agar 1 bulan sebelum musim haji tidak lagi mengeluarkan visa ziarah atau sejenisnya.
"Penggunaan visa ziarah dan sejenisnya bisa menyebabkan kekacauan puncak haji di armuzna. Karena jamaah dengan visa ziarah tidak terdata sebagai jamaah yang resmi," jelasnya.
Baca Juga : Polda Metro Jaya Kerahkan 6.088 Personel Amankan Aksi Mahasiswa di Jakarta
Dalam kesempatan tersebut Yandri juga menyoroti adanya calon jamaah yang ternyata memiliki permasalahan dengan hukum di saudi. Ia mendorong agar pemerintah saudi memberikan daftar WNI yang memiliki masalah hukum kepada kedutaan Saudi di Jakarta, sehingga sejak awal dapat terdeteksi apabila ada masalah visa nya tidak bisa diterbitkan.
Baca Juga : Menggugat Hegemoni Little Red Dot, Membalikkan Paradoks Center-Periphery
"Di lapangan masih ditemui calon jamaah yang visanya keluar namun pernah bermasalah dengan hukum di saudi. Hal ini sangat merugikan secara mental dan psikis calon jamaah tersebut," pungkasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Jemaah Haji RI Tidur di Luar Tenda Mina, DPR RI Soroti Kinerja Kemenhaj
