Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Artina Sagala, Menjaga Tradisi dan Harapan Lewat Bunga Musiman di Simalingkar

Editor :  Rozie Winata
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Artina Sagala tengah merangkai bunga di lapaknya tepatnya di Jalan Pintu Air IV, Simalingkar. (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Setiap akhir tahun, Artina Sagala selalu sibuk merangkai bunga di lapaknya yang berada di Jalan Pintu Air IV, Simalingkar.

Selama 10 tahun terakhir, ia menggeluti diri sebagai penjual bunga musiman, mulai 22 hingga 31 Desember untuk menjaga tradisi dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin berziarah.

“Ini usaha tahunan saya. Pendapatannya naik turun. Tahun lalu parah sekali, tapi tahun ini lumayan meski harga bunga mahal, mulai dari Rp10 ribu per ikat,” katanya sambil merapikan bunga-bunga segarnya.

Baca Juga : TPU Simalingkar Jadi Saksi Banyaknya Korban Virus Corona di Medan pada Tahun 2020

Bunga-bunga di lapaknya memiliki nama-nama khas yang menarik, seperti bunga salju, piku ungu, batik, bandung, pikuk kuping, hingga pikuk bebi pink. Ia juga meracik bunga tabur berwarna-warni yang wangi dan dipercaya membawa keberuntungan.

“Bunga tabur ini yang paling banyak dicari, harganya terjangkau, hanya Rp10 ribu per bungkus,” tambahnya.

Namun, menjadi penjual musiman tidak selalu mudah. Pendapatannya sering kali tidak menentu. 

Baca Juga : Polisi Amankan Puluhan Motor Diduga Hasil Curian dan Begal di Simalingkar, Ini Cerita Kepling

“Kemarin dapat Rp2 juta sehari, tapi ada juga hari di mana modal saja tidak kembali. Itu risiko yang saya jalani setiap tahun,” ujarnya dengan nada pasrah.

Artina paham betul kondisi ekonomi masyarakat sekitar, yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ia pun menyesuaikan harga dan jenis bunga yang dijual agar tetap terjangkau. 

“Masyarakat di sini lebih suka bunga yang sederhana tapi bermakna, apalagi untuk ziarah,” jelasnya.

Baca Juga : Perayaan Natal Mengulas Makna, Sejarah, dan Tradisi yang Dirayakan Umat Kristiani

Meski tantangan kerap datang, Artina tetap menjalani usahanya dengan semangat. Baginya, ini bukan sekadar soal penghasilan, tetapi juga tentang menjaga tradisi dan memberikan harapan. 

“Bunga itu lambang keindahan dan doa. Semoga tahun ini membawa keberkahan bagi saya dan semua orang yang membeli bunga di sini,” tutupnya dengan senyum optimis.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)

Baca Juga : Masakan Italia Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia