Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara terlibat aksi saling serang yang memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Konflik terbaru ini dipicu oleh jatuhnya helikopter serbu Apache milik AS di sekitar Selat Hormuz yang diduga ditembak oleh pihak Iran.
Sebagai respons, militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas pertahanan Iran. Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi tersebut merupakan tindakan balasan atas insiden yang menimpa salah satu aset militer Amerika.
"Atas apa yang mereka lakukan terhadap helikopter kami, respons yang diberikan harus kuat," ujar Trump dalam wawancara dengan media ABC.
Baca Juga : Iran Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain dengan Drone, IRGC Ancam Tingkatkan Serangan
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut dilakukan atas perintah Presiden AS sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.
Menurut CENTCOM, serangan yang dimulai sekitar pukul 17.00 waktu setempat itu ditujukan ke sejumlah sistem pertahanan udara, radar pengawas, dan pusat kendali militer Iran di sekitar Selat Hormuz.
Menanggapi langkah Washington, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap setiap serangan yang dilakukan AS.
Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian
Melalui pernyataan yang disampaikan di akun media sosial X, Araghchi menegaskan Iran siap memberikan respons terhadap setiap tindakan militer yang dianggap mengancam kedaulatan negaranya.
"Mereka tidak akan dibiarkan melakukan serangan tanpa konsekuensi. Jika ingin selamat, tinggalkan wilayah kami," tegasnya.
Tak lama setelah serangan AS, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Baca Juga : Di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Menhan AS Copot Kepala Staf Angkatan Darat dan Dua Jenderal
Iran menyebut sedikitnya 22 target militer berhasil diserang, termasuk Pangkalan Al-Azraq di Yordania, Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait, serta markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berada di Bahrain. Selain itu, IRGC mengklaim telah menargetkan hanggar pesawat tempur F-35 dan sejumlah pusat komando militer Amerika.
IRGC menegaskan serangan tersebut merupakan respons langsung atas operasi militer Washington terhadap fasilitas Iran. Teheran juga memperingatkan bahwa balasan yang lebih besar akan dilakukan apabila AS kembali menyerang wilayahnya.
Meski demikian, pemerintah Yordania, Kuwait, dan Bahrain menyatakan sistem pertahanan udara mereka telah diaktifkan untuk menghadapi ancaman tersebut. Sementara itu, seorang pejabat AS mengungkapkan sebagian besar rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan signifikan pada fasilitas militer Amerika di kawasan tersebut. Namun, eskalasi terbaru ini kembali meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.
(Dra/nusantaraterkini.co)
- Amerika Serikat
- Iran
- AS vs Iran
- Konflik Timur Tengah
- Serangan AS ke Iran
- Donald Trump
- Abbas Araghchi
- CENTCOM
- Garda Revolusi Iran
- IRGC
- Selat Hormuz
- Pangkalan Militer AS
- Bahrain
- Kuwait
- Yordania
- Serangan Drone Iran
- Helikopter Apache
- Ketegangan Teluk
- Konflik Geopolitik
- Timur Tengah Memanas
- Serangan Balasan Iran
- Militer Amerika Serikat
