Nusantaraterkini.co, NEW YORK - Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengaku cemas dengan penutupan semua titik perlintasan kargo Gaza dapat merusak kemajuan penting dalam pengiriman bantuan kemanusiaan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 19 Januari.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordinate of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan, ketahanan pangan berisiko memburuk, dan para mitranya diperingatkan bahwa jika gangguan masuknya bantuan terus berlanjut, setidaknya 80 dapur umum akan segera kehabisan stok.
“PBB dan para mitranya masih mendistribusikan paket makanan dan tepung kepada warga,” ujar OCHA, Rabu (5/3/2025).
"Pendistribusian ini berpotensi mengurangi atau mengurangi agar toko-toko roti tetap dapat menerima pasokan yang dibutuhkan untuk tetap beroperasi."
Dikatakan OCHA, para mitra ketahanan pangan sedang mendistribusikan benih sayuran dan pakan ternak untuk mendukung pemulihan produksi pangan setempat. Namun, program itu bergantung pada pasokan aliran yang stabil.
Baca Juga: Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Kecemasan dan Ketakutan Bayangi Semangat Ramadan Warga Gaza
Dana Kependudukan PBB (UN Population Fund/UNFPA) mengatakan, pemadaman bantuan akan menimbulkan konsekuensi luas bagi kaum wanita dan anak perempuan di Gaza.
“Gencatan senjata yang rapuh ini memberikan jeda yang sangat dibutuhkan oleh kaum wanita dan anak perempuan di Gaza, serta memungkinkan badan-badan PBB, termasuk UNFPA, untuk pada akhirnya meningkatkan pengiriman bantuan penyelamat nyawa kepada warga Palestina yang terdampak di seluruh Jalur Gaza,” ujar UNFPA dalam sebuah pernyataan.
"Pemberlakuan kembali blokade yang mengancam terjadinya pemodelan kemajuan pada saat yang sangat genting ketika warga sedang berjuang untuk bertahan hidup."
UNFPA mengatakan bahwa dalam 10 pekan terakhir, melalui kerja sama dengan para mitranya, ia telah memberikan layanan perlindungan dan kesehatan reproduksi kepada 170.000 wanita dan anak perempuan, membangun 16 fasilitas kesehatan sementara, membantu ribuan ibu hamil, memastikan ketersediaan obat-obatan, mendistribusikan peralatan pelindung, serta menyediakan pasokan penting bagi hampir 4.500 ibu yang baru melahirkan.
Badan PBB tersebut menggarisbawahi urgensi akses kemanusiaan, seraya menekankan bahwa Israel harus memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan terlepas dari apakah gencatan senjata berlaku atau tidak.
Baca Juga: Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Masa Depan Gaza Masih Terombang-Ambing (Bagian 2)
Pendidikan merupakan sektor lain yang mengalami tekanan. OCHA menyampaikan bahwa akses menghalangi sekolah-sekolah untuk melanjutkan proses belajar-mengajar, mengingat kurangnya pasokan kebutuhan pendidikan di pasar.
Beberapa siswa telah dapat kembali bersekolah setelah keluarga-keluarga pengungsi keluar dari gedung-gedung sekolah yang mereka gunakan sebagai tempat penampungan. Namun, OCHA mengatakan bahwa sekolah-sekolah tersebut kekurangan perabotan yang layak, air bersih, toilet yang berfungsi baik, serta barang-barang kebutuhan dasar, seperti buku tulis dan pulpen.
OCHA menyebut pendanaan untuk respons kemanusiaan masih menjadi tantangan utama.
“Lebih dari dua bulan berjalan di tahun ini, kami mendapatkan kurang dari 4 persen dari 4 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.371) yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan paling mendasar di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki, terutama di Gaza,” kata OCHA. "Skala kebutuhannya luar biasa besar, begitu pula kekurangan dananya yang juga luar biasa besar."
(Zie/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
