Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Demam reumatik hingga kini masih menjadi satu masalah kesehatan serius, terutama di negara berkembang.
Meski sering dianggap sebagai penyakit “jadul”, kenyataannya demam reumatik masih mengancam anak usia 5–15 tahun dan dapat berujung pada kerusakan jantung permanen apabila tidak ditangani dengan baik.
Kondisi lanjutan ini dikenal sebagai penyakit jantung reumatik atau Rheumatic Heart Disease (RHD).
Penyakit ini berawal dari infeksi bakteri Streptococcus grup A, yang biasanya menyerang saluran pernapasan atas, seperti radang tenggorokan atau faringitis.
Infeksi yang tampak ringan ini ternyata dapat memicu respon inflamasi akut pada tubuh dan menyerang jaringan vital seperti jantung, sendi, otak, hingga kulit.
Walau biasanya tidak meninggalkan kerusakan permanen pada otak, kulit, atau sendi, namun serangan terhadap jantung bisa berkelanjutan dan menyebabkan kerusakan katup jantung dalam jangka panjang.
“Data menunjukkan bahwa sekitar 60 persen, penderita demam reumatik di daerah endemik berisiko berkembang menjadi penyakit jantung reumatik,” kata dr Wanda kepada nusantaraterkini.co pada Selasa (18/11/2025).
Apa itu Demam Reumatik?
dr Wanda mengatakan demam reumatik merupakan penyakit inflamasi serius yang timbul sebagai reaksi tubuh terhadap infeksi Streptococcus grup A. Bila infeksi awal tidak ditangani secara tuntas, sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri, terutama bagian jantung.
Inilah yang menyebabkan peradangan pada katup jantung yang dapat bertahan bertahun-tahun dan menimbulkan gangguan permanen.
“Penderita terbanyak berada pada kelompok usia 5–15 tahun, sementara kasus pada usia di atas 30 tahun sangat jarang terjadi,” terangnya.
Empat Stadium Perjalanan Penyakit Demam Reumatik
Untuk memahami bagaimana penyakit ini berkembang, para ahli membaginya ke dalam empat stadium klinis.
1. Stadium I: Infeksi Awal oleh Streptococcus Grup A
Stadium pertama dimulai ketika seseorang mengalami infeksi saluran napas bagian atas oleh bakteri beta-hemolytic Streptococcus grup A. Gejalanya biasanya ringan dan sering tidak disadari sebagai ancaman.
Keluhan umum meliputi:
* Demam
* Batuk
* Nyeri saat menelan
* Muntah
* Diare (terutama pada anak kecil)
Pada pemeriksaan fisik, dokter dapat menemukan:
* Eksudat pada tonsil (tanda radang)
* Pembesaran kelenjar getah bening di bawah rahang
“Infeksi ini biasanya berlangsung 2–4 hari dan sering sembuh sendiri tanpa pengobatan,” ujarnya.
Baca Juga : Jumlah Kasus Demam Berdarah Melonjak di Ibukota Vietnam
Baca Juga : Lonjakan Harga Picu Demam Emas Selama Pekan Emas di China
Namun, masih dikatakan dr Wanda, inilah risiko terbesarnya, karena tampak ringan, penderita tidak mendapat pengobatan antibiotik yang seharusnya menjadi langkah utama mencegah demam reumatik.
2. Stadium II: Periode Laten (1–3 Minggu)
Setelah infeksi awal mereda, tubuh tidak langsung menunjukkan gejala demam reumatik. Fase ini disebut periode laten, di mana gejala belum muncul tetapi proses inflamasi dalam tubuh telah mulai terbentuk.
Periode laten biasanya berlangsung:
* 1–3 minggu setelah infeksi tenggorokan
* Pada kasus Korea Sydenham (gangguan gerakan akibat reumatik), gejalanya dapat muncul setelah 6 minggu hingga berbulan-bulan kemudian.
“Fase inilah yang membuat banyak orang tidak menghubungkan gejala demam reumatik dengan infeksi tenggorokan ringan yang dialami sebelumnya,” terangnya.
3. Stadium III: Fase Akut Demam Reumatik
Ini adalah fase paling penting dan berbahaya. Pada stadium ini, berbagai gejala demam reumatik mulai muncul dan menyerang beberapa sistem tubuh.
Para ahli membagi manifestasi klinis pada stadium ini menjadi dua kategori:
A. Gejala Minor (Umum)
* Demam
* Kelelahan berat
* Nyeri sendi ringan
* Peningkatan laju endap darah (LED) dan CRP sebagai tanda peradangan
B. Gejala Mayor (Spesifik)
Gejala mayor sangat menentukan diagnosis dan tingkat keparahan penyakit:
Merupakan peradangan pada katup jantung yang dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Nyeri dan bengkak pada sendi yang berpindah-pindah, sering kali dari satu sendi besar ke sendi lainnya.
3. Korea Sydenham
Gerakan tubuh tidak terkendali akibat gangguan pada otak.
4. Eritema marginatum
Ruam kemerahan pada kulit yang tidak gatal.
5. Nodul subkutan
Benjolan kecil di bawah kulit, biasanya pada area tulang.
Stadium III adalah fase kritis yang menentukan apakah pasien akan mengalami kerusakan jantung jangka panjang atau tidak.
4. Stadium IV: Stadium Inaktif
Pada stadium ini, gejala demam reumatik sudah tidak tampak. Namun, tubuh masih bisa menyimpan memori terhadap penyakit ini.
Ada dua kondisi pada stadium ini:
* Penderita tanpa kelainan jantung akan tampak sehat dan tanpa keluhan.
* Penderita dengan kelainan katup jantung tetap berisiko mengalami sesak napas, mudah lelah, dan gangguan jantung lainnya.
Bahaya terbesar adalah risiko reaktivasi, di mana demam reumatik dapat kambuh kapan saja bila penderita kembali terpapar Streptococcus grup A.
Risiko Kekambuhan dan Pentingnya Profilaksis Jangka Panjang
Pasien yang pernah mengalami satu episode demam reumatik memiliki risiko sangat tinggi mengalami kekambuhan (rekuren). Setiap episode baru meningkatkan potensi kerusakan jantung yang lebih berat.
Karena itu, para ahli merekomendasikan profilaksis antibiotik jangka panjang menggunakan penisilin untuk mencegah infeksi Streptococcus berulang.
Baca Juga : MPR Dorong Penguatan Peran Orang Tua untuk Cegah DBD
Ada lima hal yang dipertimbangkan dalam menentukan lamanya profilaksis:
1. Riwayat kekambuhan sebelumnya
2. Tingkat risiko paparan terhadap bakteri Streptococcus grup A
3. Waktu sejak serangan terakhir
4. Usia pasien
5. Tingkat keterlibatan jantung
Penisilin menjadi pilihan utama karena efektif membasmi bakteri penyebab dan menurunkan risiko penyakit jantung reumatik.
Mengapa Demam Reumatik Berbahaya?
Bahaya terbesar dari demam reumatik adalah kemampuannya merusak katup jantung secara permanen dan menyebabkan:
* Gagal jantung
* Aritmia
* Pembesaran jantung
* Gangguan aliran darah (stenosis atau regurgitasi katup)
Kerusakan katup ini bahkan dapat terjadi bertahun-tahun setelah infeksi awal tidak ditangani dengan baik.
Pencegahan Lebih Baik daripada Pengobatan
Satu hal penting, masih dikatakan dr Wanda, demam reumatik adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Langkah pencegahannya meliputi:
* Mengobati radang tenggorokan dengan antibiotik yang tepat
* Tidak meremehkan demam dan nyeri tenggorokan berulang
* Mengevaluasi keluhan nyeri sendi pada anak
* Melakukan pemeriksaan jantung bila terdapat gejala mencurigakan
Edukasi masyarakat sangat penting agar infeksi Streptococcus yang tampak ringan tidak diremehkan.
Demam reumatik, akunya, bukan sekadar penyakit akibat radang tenggorokan biasa. Ia dapat menghancurkan masa depan anak dan remaja karena berisiko menyebabkan kerusakan jantung permanen.
“Pemahaman mengenai stadium penyakit, gejala, dan pentingnya profilaksis jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menekan angka kasus penyakit jantung reumatik di Indonesia,” pungkas dr Wanda.
(Akb/nusantaraterkini.co)
- Penyakit jantung reumatik
- Rheumatic Heart Disease
- Infeksi Streptococcus grup A
- Radang tenggorokan streptokokus
- Stadium demam reumatik
- Profilaksis penisilin
- Karditis reumatik
- Artritis migratori
- Korea Sydenham
- Kerusakan katup jantung
- Pencegahan demam reumatik
- kesehatan
- demam reumatik
- jantung
- edukasi kesehatan
- streptococcus A
- dr Wanda
