Nusantaraterkini.co, WASHINGTON — Kevin Warsh resmi menjabat sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) usai mendapat persetujuan Senat Amerika Serikat untuk masa jabatan empat tahun. Dalam pelantikannya di Gedung Putih, Jumat (22/5/2026), Warsh menegaskan dirinya tidak akan tunduk pada tekanan politik Presiden AS Donald Trump.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik mengingat Trump selama ini dikenal kerap mengkritik kebijakan The Fed, khususnya terkait suku bunga. Dalam pidatonya, Warsh menegaskan komitmennya menjaga independensi bank sentral AS sekaligus mendorong reformasi besar di tubuh The Fed.
“Saya percaya tahun-tahun ke depan bisa menghadirkan kemakmuran luar biasa bagi masyarakat Amerika dan The Fed memiliki peran penting di dalamnya,” ujar Warsh dikutip AFP, Sabtu (23/5/2026).
Baca Juga : Rupiah Tahan Tekanan Global, Ditutup Menguat ke Rp16.860 per Dolar AS
Pria berusia 56 tahun asal Albany, New York, itu bukan sosok baru di lingkungan The Fed. Ia pernah menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed sebelum mengundurkan diri pada 2011 akibat perbedaan pandangan terkait kebijakan moneter saat krisis keuangan global.
Kini, Warsh kembali dengan membawa visi perubahan, mulai dari pola pengambilan keputusan, komunikasi kebijakan, hingga evaluasi strategi ekonomi bank sentral.
Masa kepemimpinan Warsh dimulai di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap independensi The Fed. Trump sebelumnya beberapa kali menyerang mantan Ketua The Fed, Jerome Powell, karena dianggap lambat memangkas suku bunga.
Baca Juga : Pasar Waspada: Rupiah Melemah di Awal November, The Fed Masih Tahan Pelonggaran
Bahkan, pemerintahan Trump disebut sempat mengarahkan penyelidikan terhadap Powell dan masih berupaya mencopot gubernur The Fed, Lisa Cook.
Dalam sidang konfirmasi Senat, Warsh secara tegas menyatakan dirinya tidak akan menjadi “boneka” Trump. Namun saat pelantikan resmi, ia lebih menyoroti pentingnya integritas, reformasi kebijakan, dan pembaruan model ekonomi di tubuh The Fed.
Warsh merupakan lulusan Stanford University dan Harvard Law School. Ia menikah dengan Jane Lauder, cucu pendiri perusahaan kosmetik Estée Lauder.
Sebelum terjun ke pemerintahan, Warsh berkarier di Morgan Stanley dengan fokus pada merger dan akuisisi. Ia kemudian bergabung dalam pemerintahan Presiden George W. Bush sebagai penasihat ekonomi Gedung Putih pada 2002 hingga 2006.
Setelah meninggalkan The Fed pada 2011, Warsh kembali aktif di Wall Street dan sempat duduk di jajaran direksi perusahaan logistik UPS.
Warsh dikenal memiliki pandangan tegas terhadap inflasi dan kebijakan moneter. Pada masa jabatan pertamanya, ia cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pandangannya mulai sejalan dengan Trump yang mendorong penurunan suku bunga demi menopang pertumbuhan ekonomi AS pascapandemi Covid-19.
Ia juga mengkritik kebijakan The Fed pada 2021–2022 yang dinilai menjadi penyebab tingginya inflasi di Amerika Serikat.
Selain itu, Warsh ingin melakukan reformasi besar dengan mengubah metode pengambilan data ekonomi, menyederhanakan komunikasi kebijakan, memperbesar ruang debat internal, hingga mengurangi ukuran neraca The Fed.
Senior Fellow Brookings Institution, David Wessel, menilai Warsh memang membawa agenda perubahan yang besar. Namun, menurutnya, keberhasilan Warsh tetap bergantung pada kemampuannya bekerja sama dengan para pejabat lain di The Fed.
Sementara profesor hukum Columbia University, Kathryn Judge, menilai tantangan terbesar Warsh adalah menyatukan perbedaan pandangan yang sudah lama muncul di internal bank sentral AS.
(Dra/nusantaraterkini.co)
