Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kota Medan yang kerap disebut sebagai kota yang keras dan penuh tantangan kini mendapat sorotan khusus menjelang Pilkada 2024.
Stigma yang melekat pada Medan telah melahirkan julukan satir dari masyarakat, yaitu “Gotham City.”
Baca Juga : DPRD Umumkan Rico-Zaky sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan 2025-2030
Julukan ini mencerminkan harapan sekaligus kritik publik terhadap kondisi kota yang diwarnai berbagai masalah sosial, infrastruktur yang tertinggal, hingga isu kepemimpinan.
Baca Juga : Tidak Ada Bukti yang Relevan Gugatan Ridha-Rani Ditolak MK, Hasil Pilkada Medan Sah!
Dalam wawancara eksklusif dengan Nusantaraterkini.co, akademisi dan pengamat sosial-politik Sohibul Anshor Siregar menilai bahwa “Gotham City” adalah cerminan dari kerinduan warga Medan akan perubahan positif yang konkret.
“Medan memiliki sejarah perencanaan yang baik dan potensi untuk menjadi kota yang unggul di tingkat internasional. Namun, kualitas kepemimpinan adalah kunci utama dalam menentukan apakah Medan dapat keluar dari berbagai tantangan ini,” ujarnya.
Menurut Sohibul, kepemimpinan Medan memerlukan figur yang tidak hanya paham akan sejarah dan karakteristik kota, tetapi juga mampu menghadirkan visi pembangunan yang terintegrasi.
"Paris berhasil menjadi ‘Paris van Java’ karena pemimpin dan warganya menghidupkan nilai-nilai kota dan mengembangkan budaya lokalnya. Medan memerlukan pemimpin yang paham bagaimana mengelola karakteristik lokal dengan visi yang modern," tegasnya.
Sohibul juga menekankan pentingnya seorang pemimpin yang tidak hanya mengandalkan kekuasaan semata, tetapi juga mengerti nilai-nilai institusi dan potensi yang ada.
“Orang yang paling paham akan nilai-nilai kota itulah yang seharusnya tampil di depan,” katanya, menambahkan bahwa pemimpin Medan tidak boleh sekadar menunjukkan proyek fisik tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat.
Menjelang Pilkada 2024, Sohibul mengingatkan masyarakat tentang tantangan yang akan dihadapi, termasuk praktik money politics yang sering kali mencoreng proses pemilihan.
"Masyarakat Medan seharusnya bisa berperan aktif dalam menghentikan praktik-praktik seperti ini. Kita harus memilih bukan berdasarkan keuntungan ekonomi sesaat, tetapi pada visi dan kinerja nyata calon pemimpin,” tutur Sohibul.
Ia juga menekankan pentingnya partisipasi publik yang berbasis kesadaran politik, yang mana warga harus lebih kritis dalam melihat kandidat yang menawarkan janji dan program kerja.
"Partisipasi publik yang efektif akan sulit tercapai jika warga masih memilih berdasarkan keuntungan materi atau popularitas semata,” katanya.
Menurut Sohibul, kepemimpinan yang tepat di Medan adalah yang mampu mengkombinasikan nilai-nilai figuratif, jaringan politik yang kuat, dan pengelolaan anggaran yang bijaksana.
"Pilkada Medan 2024 adalah saat yang tepat untuk masyarakat memilih pemimpin dengan integritas tinggi dan mampu membangun jaringan kuat demi kemajuan kota ini," ucapnya.
Meski penuh tantangan, Sohibul optimistis bahwa Medan dapat bertransformasi menjadi kota yang unggul, tergantung pada kualitas kepemimpinan yang terpilih. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa Pilkada kali ini dapat menjadi tonggak penting dalam perjalanan Medan menuju perbaikan yang diidamkan warganya.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
