Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Kembali Melemah Didorong Tekanan dari Faktor Makroekonomi

Editor :  Team
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga minyak mentah turun 1% mengakhiri reli selama tiga hari berturut-turut.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (12/2/2025) harga minyak mentah turun 1% mengakhiri reli selama tiga hari berturut-turut.

Penurunan ini dipicu oleh laporan peningkatan stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS) serta pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, yang mengindikasikan pemangkasan suku bunga akan lebih lambat tahun ini.

Melansir Reuters, harga minyak Brent turun 67 sen (0,87%) menjadi US$76,33 per barel pada pukul 09.36 GMT.

Baca Juga : BPS Catat RI Lebih Banyak Impor Barang dari Israel Ketimbang Iran, Tembus Rp 355 Miliar

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 75 sen (1,02%) menjadi US$72,57 per barel.

Sebelumnya, harga minyak mengalami kenaikan tiga hari berturut-turut, di mana Brent naik 3,6%, sementara WTI naik 3,7%.

"Harga minyak kembali melemah karena tekanan dari faktor makroekonomi, terutama setelah Jerome Powell menyatakan bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga," kata Harry Tchilinguirian, Kepala Riset di Onyx Capital Group.

Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpotensi Tertekan, Analis Soroti Support Kritis dan Pilihan Saham Menarik

"Di saat yang sama, para pedagang juga menunggu rilis data minyak mingguan dari EIA sore ini, untuk melihat apakah laporan API tentang peningkatan stok minyak mentah sebesar 9 juta barel akan dikonfirmasi dalam data resmi."

Jerome Powell menyatakan bahwa ekonomi AS masih berada dalam kondisi yang baik, sehingga The Fed tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga, kecuali jika inflasi turun lebih cepat atau pasar tenaga kerja melemah.

Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman, yang pada akhirnya dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan mengurangi permintaan minyak.

Baca Juga : Harga Emas Antam Melambung Rp20.000 Dibanderol di Level Rp1.826.000 Per Gram

"Kami melihat lonjakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Jadi, kemungkinan ada aksi ambil untung setelah laporan API menunjukkan peningkatan stok minyak mentah yang besar. Namun, ini juga bisa disebabkan oleh cuaca buruk yang memengaruhi ekspor minyak mentah serta perawatan kilang," ujar Giovanni Staunovo, analis di UBS.

Menurut laporan American Petroleum Institute (API) pada Selasa, stok minyak mentah AS naik 9,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 7 Februari.

Sementara itu, persediaan bensin turun 2,51 juta barel, dan stok distilat turun 590.000 barel.

Baca Juga : IHSG Sudah Terkoreksi 0,47% Selama Sepekan

Laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) akan dirilis pada Rabu (12/2).

"Pergerakan harga WTI sejauh ini tampaknya lebih banyak didorong oleh aksi ambil untung dari spekulan jangka pendek yang masih menunggu rilis data CPI AS hari ini," kata Kelvin Wong, analis pasar senior di OANDA, dalam emailnya.

Data inflasi konsumen AS (Consumer Price Index/CPI) akan dirilis pada pukul 13.30 GMT (20.30 WIB).

Baca Juga : Harga Emas Antam Turun Rp1.000 Dibanderol di Level Rp1.513.000 Per Gram di Perdagangan Rabu (4/12/2024)

Ekspektasi pasar menunjukkan inflasi inti bulan Januari akan melambat sedikit ke 3,1% secara tahunan, sementara inflasi utama diperkirakan tetap di 2,9%.

Di sisi lain, EIA menaikkan perkiraan produksi minyak mentah AS untuk 2025 menjadi 13,59 juta barel per hari (bph), naik dari perkiraan sebelumnya 13,55 juta bph, sementara proyeksi permintaan tetap tidak berubah.

Baca Juga : Bamsoet Apresiasi ACN Majukan Industri Kargo Nasional