Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyakit hati merupakan ancaman yang serius karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas.
Karenanya, banyak penderitanya baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati.
Baca Juga : Antisipasi El Nino, APP Group Perkuat Deteksi Dini Karhutla 2026
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara global, penyakit hati kronis menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun.
Baca Juga : Dinkes Terus Genjot Deteksi Dini Kanker Serviks, 48.451 Perempuan di Sumut Jalani Tes IVA
Di mana lebih dari separuh kematian tersebut berkaitan dengan infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang sering kali tidak terdeteksi hingga memasuki stadium lanjut.
“Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut,” katanya, dikutip dari laman Kemenkes, Selasa (2/6/2026).
Budi menekankan, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapatkan pengobatan.
“Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, skrining penyakit hati telah diintegrasikan ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi Hepatitis B melalui HBsAg serta penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.
Selain memperluas deteksi dini, pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil dengan Hepatitis B untuk mencegah penularan ke bayi, serta penerapan kebijakan Nutri-Level mulai 2026 guna membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.
Sementarax Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Prof dr David Handojo Muljono mengatakan, banyak kasus Hepatitis B kronis tidak terdeteksi karena berlangsung tanpa gejala.
Karena itu, perluasan akses skrining dan pengobatan di layanan kesehatan primer menjadi sangat penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati.
(zie/nusantaraterkini.co)
