Nusantaraterkini.co, WHASINGTON - Sebuah jaringan restoran cepat saji asal Amerika Serikat, Steak n Shake, menjadi sorotan setelah mengumumkan pembelian Bitcoin senilai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp150 miliar.
BeInCrypto melaporkan, pembelian tersebut menandai fase terbaru dari inisiatif “Bitcoin-to-Burger” yang diluncurkan pada Mei 2025.
Melalui program ini, Steak n Shake secara langsung mengalihkan pendapatan operasionalnya ke dalam bentuk Bitcoin, sekaligus mengintegrasikan aset digital ke dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Manajemen perusahaan menyebut strategi ini sebagai sistem yang “berkelanjutan”, di mana peningkatan kualitas makanan mendorong kenaikan pendapatan, lalu keuntungan tersebut dialokasikan kembali ke cadangan Bitcoin perusahaan.
Baca Juga : Bitcoin Tembus 90.000 Dolar AS di Awal 2026, Dipicu Short Squeeze dan ETF
Dalam twitnya di X, Jumat (17/1/2026), Steak n Shake menyatakan, delapan bulan yang lalu, mereka meluncurkan transformasi burger menjadi Bitcoin ketika kami mulai menerima pembayaran bitcoin.
Penjualan di gerai yang sama telah meningkat drastis sejak saat itu.
Semua hasil penjualan Bitcoin masuk ke Cadangan Bitcoin Strategis kami.
Hari ini kami meningkatkan eksposur Bitcoin kami sebesar $10.000.000 dalam nilai nominal.
"Kami telah menciptakan sistem yang mandiri — meningkatkan penjualan di toko yang sama yang meningkatkan SBR. Meningkatkan kualitas makanan memperluas jangkauan Steak n Shake dan memanfaatkan Bitcoin ke dimensi baru yang lezat," tulisnya.
Sepanjang tahun 2025 lalu, Steak ’n Shake mencatat pertumbuhan penjualan same-store dua digit, yang diklaim sebagai yang terbaik di industri restoran cepat saji. Perusahaan menyebut adopsi Bitcoin sebagai faktor utama yang memungkinkan kinerja tersebut.
Baca Juga : TPPU Berkedok Kripto: Cermin Gelap di Balik Kilau Digital
Selain itu, Steak ’n Shake juga menegaskan posisinya sebagai perusahaan berbasis Bitcoin sepenuhnya.
Meski dalam jajak pendapat internal sebanyak 53 persen responden mendukung penambahan Ethereum (ETH) sebagai metode pembayaran, manajemen secara tegas menolak opsi tersebut dan tetap mempertahankan kebijakan Bitcoin-only.
Strategi ini dinilai sebagai upaya untuk membangun loyalitas dari komunitas kripto yang memiliki pandangan ideologis kuat terhadap Bitcoin.
Sebelumnya, sejak Oktober lalu, perusahaan memperbarui sistem penggajian sehingga sekitar 10.000 karyawan dapat menerima sebagian gaji mereka dalam bentuk Bitcoin.
Kebijakan ini mencerminkan pandangan perusahaan bahwa Bitcoin layak diperlakukan sebagai penyimpan nilai setara mata uang fiat.
(*/nusantaraterkini.co)
