Nusantaraterkini.co, MEDAN - Setiap tanggal 1 Mei, para pekerja di berbagai penjuru dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal sebagai May Day. Bagi sebagian orang, momen ini identik dengan hari libur untuk beristirahat dari rutinitas kerja. Namun di balik suasana tersebut, tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan, solidaritas, dan tuntutan keadilan bagi kaum pekerja.
Menariknya, peringatan May Day tidak selalu berkaitan dengan dunia industri. Jauh sebelum dikenal sebagai Hari Buruh, 1 Mei merupakan bagian dari tradisi kuno di Eropa yang merayakan datangnya musim semi. Salah satu yang paling terkenal adalah festival Beltane, di mana masyarakat merayakan kesuburan dan kehidupan melalui ritual seperti tarian mengelilingi tiang maypole yang dihiasi pita warna-warni.
Memasuki abad ke-19, makna May Day berubah drastis. Hari ini mulai identik dengan gerakan buruh yang menuntut perbaikan kondisi kerja, terutama di Amerika Serikat. Pada masa itu, para pekerja menghadapi jam kerja yang panjang dan kondisi kerja yang buruk.
Baca Juga : Pidato May Day 2026 Dinilai Seimbang, Tantangan Ada pada Realisasi Kebijakan
Puncak gerakan ini terjadi pada 1 Mei 1886, ketika lebih dari 300.000 pekerja di berbagai kota di Amerika Serikat melakukan aksi mogok kerja secara massal. Mereka menuntut penerapan jam kerja delapan jam sehari—sebuah standar yang kini dianggap sebagai hal yang wajar.
Namun, perjuangan tersebut tidak berjalan mulus. Ketegangan memuncak dalam peristiwa Haymarket Affair di Chicago, yang berujung bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Insiden ini menyebabkan korban jiwa dan memicu gelombang penindasan terhadap gerakan buruh. Meski tragis, peristiwa ini justru memperkuat solidaritas pekerja di tingkat global.
Tak lama kemudian, semangat May Day menyebar ke Eropa. Pada tahun 1890, ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi buruh besar-besaran, termasuk di London, menandai semakin kuatnya gerakan pekerja internasional.
Baca Juga : Peringatan Hari Buruh, Aliansi Akbar Sumut Kritik Sistem Pengupahan dan Minim Dialog Pemerintah
Saat ini, Hari Buruh telah diakui sebagai hari libur resmi di puluhan negara di seluruh dunia. Meski demikian, secara unik, Amerika Serikat—tempat lahirnya gerakan ini—tidak menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional untuk buruh.
Lebih dari sekadar perayaan, May Day menjadi pengingat bahwa hak-hak pekerja yang dinikmati saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang. Solidaritas dan semangat keadilan yang lahir dari sejarah tersebut terus hidup, menginspirasi generasi pekerja di seluruh dunia.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : Peringatan May Day Medan: BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Perlindungan Pekerja Jadi Prioritas Utama
