Nusantaraterkini.co, MEDAN – Di balik dinding putih kokoh berarsitektur kolonial, Museum Perkebunan Indonesia menyimpan rekam jejak panjang komoditas yang pernah merajai pasar dunia.
Siang ini, ruang-ruang pameran museum tampak hidup oleh lalu lalang pengunjung yang antusias mengamati berbagai artefak, miniatur, dan pusat informasi digital yang interaktif di Jalan Brigjend Katamso, Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga : Menolak Punah! Eksistensi Pedagang Buku Titi Gantung Medan Bertahan Sejak 1980-an di Era Digital
Di dalam ruang pameran utama Lantai 1, dua orang pengunjung tampak berdiri bergantian di depan beberapa etalase. Mereka adalah Siti, seorang guru sekolah dasar, dan Doni, seorang pegiat industri kopi. Keduanya tampak asyik mendiskusikan isi dan koleksi yang disajikan di dalam museum.
Baca Juga : 10 Masjid Bersejarah di Medan yang Wajib Dikunjungi, Jejak Islam dari Era Kesultanan hingga Modern
Siti, yang sedang memegang brosur panduan museum, membuka percakapan saat mereka melihat maket perkebunan dan alat-alat pengolah tanah zaman dulu.
"Saya sengaja datang ke sini untuk survei materi pembelajaran anak-anak sekolah. Ternyata isinya sangat lengkap ya. Di luar tadi kita disambut pesawat asli 'Piper Pawnee' yang dulu dipakai menyemprot hama tembakau Deli. Begitu masuk ke dalam, kita langsung disuguhi sejarah perkembangan kelapa sawit, karet, kopi, teh, hingga tebu. Visualisasinya sangat mendidik" ucap Siti.
Doni mengangguk setuju, pandangannya tertuju pada instalasi yang menjelaskan proses pengolahan komoditas dari masa ke masa.
"Betul sekali, Yang menarik bagi saya sebagai pencinta kopi adalah bagaimana museum ini tidak hanya memajang benda mati," timpal Doni.
"Lihat di etalase sebelah sana, ada contoh fisik biji-biji komoditas, replika mesin giling tua, hingga dokumen-dokumen perdagangan abad ke-19. Bahkan ada ruang multimedia interaktif yang menjelaskan bagaimana teknologi modern sekarang diterapkan di perkebunan sawit kita," sambungnya.
Kedua pengunjung ini sepakat bahwa museum ini berhasil mengemas sejarah perkebunan Indonesia, khususnya Sumatra Utara secara runtut.
Koleksi di lantai dasar banyak berfokus pada sejarah komoditas klasik seperti komoditas ekspor Tembakau Deli yang melegenda, sementara lantai atas menyajikan perkembangan riset perkebunan mutakhir.
"Museum ini berhasil menunjukkan kalau perkebunan itu bukan cuma soal bertani, tapi soal ilmu pengetahuan, ekonomi global, dan sejarah bangsa," jelas Doni.
Melalui koleksi yang edukatif dan interaktif ini, Museum Perkebunan Indonesia sukses mengubah narasi sejarah menjadi sebuah petualangan visual yang menarik bagi setiap generasi yang berkunjung.
(Cw5/nusantaraterkini.co)
