Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Merasa Bersalah Ambil Uang Teman demi Ibu, Siswi MTs di Pontianak Nekat Akhiri Hidup

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mayat. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, PONTIANAK – Kisah pilu menyelimuti dunia pendidikan di Kota Pontianak. Seorang siswi MTs Negeri 1 Pontianak berusia 13 tahun ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Rasa bersalah yang ia pendam menjadi motif tragis di balik peristiwa ini.

Berdasarkan keterangan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak, siswi tersebut diduga mengambil uang milik temannya di sekolah. Niat awalnya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan ingin membelikan sesuatu untuk sang ibu.

“Kalau boleh saya sampaikan, almarhumah ingin membelikan kado untuk ibunya. Mendengar itu, kami semua sangat sedih,” ujar Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag Pontianak, Aris Sujarwono, dikutip dari detikKalimantan, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga : Harga Emas Berjangka AS naik 0,2% Berada di Level US$2.920,10

Peristiwa bermula pada Sabtu (17/1/2026), saat kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) berlangsung. Seorang siswa melaporkan kehilangan uang sebesar Rp200 ribu. Beberapa hari kemudian, tepatnya Selasa (20/1/2026), rekaman CCTV memperlihatkan siswi tersebut berada di lokasi tempat uang itu hilang.

Wali kelas kemudian memanggil siswi itu untuk dimintai keterangan. Ia mengakui perbuatannya dan menyampaikan bahwa uang tersebut ada di rumah karena digunakan untuk keperluan tertentu.

“Wali kelas menanyakan dengan baik. Setelah mendengar penjelasannya, bahkan disampaikan bahwa kebutuhannya akan dibantu. Masalah itu dianggap selesai,” jelas Aris.

Baca Juga : Kemenkes Kembangkan Program PPDS Berbasis Hospital Based

Menurut pihak sekolah, tidak ada tekanan, bentakan, maupun tudingan kasar terhadap korban. Setelah kejadian itu, siswi tersebut masih sempat beraktivitas dan bermain bersama teman-temannya seperti biasa.

Namun di balik sikapnya yang tampak tenang, beban perasaan rupanya terus menghantui. Pada Rabu (21/1/2026) malam, korban menceritakan kejadian di sekolah kepada ibunya. Ia mengaku merasa sangat malu dan takut kembali ke sekolah karena khawatir namanya sudah tercemar.

Tak lama berselang, duka itu pun terjadi. Korban ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB oleh kakaknya.

Baca Juga : Kurs Rupiah Ditutup Tertekan Sampai Melemah 0,36% di Level Rp15.906 Per Dolar Sore Ini

Sebelum mengakhiri hidup, korban meninggalkan sepucuk surat yang menyentuh hati. Dalam tulisannya, ia meminta maaf kepada orang tua, mengucapkan terima kasih, serta menegaskan tidak menyalahkan siapa pun atas peristiwa yang menimpanya.

Ia juga berharap agar keluarganya tetap bahagia dan meminta agar kejadian tersebut tidak diperpanjang atau dilibatkan ke pihak kepolisian.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa tekanan batin pada anak dan remaja kerap tak terlihat, meski lingkungan merasa persoalan telah selesai. Pendampingan emosional dan ruang aman untuk bercerita menjadi hal yang sangat penting di usia mereka yang masih rentan.

Baca Juga : PLTA di Pakkat Longsor, Sungai Tertutup dan Warga Cemas Debit Air Terus Naik

(Dra/nusantaraterkini.co).