Nusantaraterkini.co, MEDAN - Presiden Prabowo Subianto menyatakan telah membuka kembali ruang penelitian terhadap situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.
Hal ini pun disambut baik oleh Wartawan senior sekaligus Public Communicator Specialist Gunung Padang, Teguh Santosa yang sebelumnya sempat terlibat dalam upaya mensukseskan penelitian gunung yang diyakini sebagai peninggalan kebudayaan Megalitikum tersebut.
"Saya menyambut baik, karena ini sebetulnya sudah dimulai sejak 2009 kemudian disusul dengan Perpres Presiden SBY yang terbit di bulan Oktober 2014 tapi kemudian di era pemerintahan Jokowi penelitian di Gunung Padang seolah tidak diberikan tempat," katanya, Kamis (31/7/2025).
Baca Juga : Ilham Permana: Kementerian Pariwisata Harus Lestarikan Cagar Budaya Situs Gunung Padang
Teguh menceritakan, penelitian di Gunung Padang ini awalnya diinisiasi oleh teman-teman di Staf Khusus Bidang Bantuan Sosial Bencana dipimpin Andi Arif yang ketika itu bertugas mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Teguh menyebutkan, mereka saat itu memiliki pandangan bahwa Indonesia adalah satu negara yang tidur bersama bencana. Hal ini lantaran ada banyak gunung berapi yang aktif di Indonesia dan ditemukan banyaknya pergerakan lempeng bumi.
"Karena kita berada di ring of fire, sehingga dengan kondisi geografis itu, maka kemudian kantor staf khusus ini memberikan perhatian terhadap kemungkinan bencana di masa depan. Apalagi menurut geolog bahwa bencana ini selalu memiliki pola berulang," jelasnya.
Untuk itu, dalam rangka melakukan mitigasi bencana di masa mendatang, perlu dilakukan pemetaan lokasi bencana potensial. Salah satunya, sebut Teguh, adalah dilakukan di sekitar patahan Cimandiri yang cukup panjang mulai dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi hingga ke arah Padalarang.
"Sehingga dilakukanlah pemetaan di situ dan ditemukan segmen yang tidak konsisten dengan lapisan bumi yang diduga adalah satu benda yang prosesnya itu melibatkan manusia," terangnya.
Jadi, kata Teguh, penelitian Gunung Padang ini awalnya untuk dilakukan kebutuhan peta kebencanaan. Di situ, dia kemudian diajak untuk terlibat di sisi Komunikasi publik, karena ada banyak dugaan, pertanyaan dan yang meragukan itikadnya (penelitian).
Baca Juga : Studi Ungkap Paparan Cahaya Buatan di Malam Hari Berpotensi Picu Depresi
"Kami membantu komunikasi publik sehingga publik mendapatkan gambaran ini adalah kegiatan akademik dan ilmiah. Tp memang meski tahun 2014 alas hukumnya terbit, tapi di era pemerintahan Jokowi penelitian ini tidak dilanjutkan," terangnya.
Kini setelah 10 tahun berlalu, Presiden Prabowo memberikan ruang lagi untuk penelitian ini agar dituntaskan.
"Saya pikir ini harus disambut baik karena (penelitian) bukan sekedar menguak misteri Gunung Padang tapi lebih jauh dari itu, yakni aspek kebencanaan," tegasnya.
Teguh mengaku, dari penelitian yang sudah dilakukan, medan pengeboran yang dilakukan sebetulnya sudah mencapai kedalaman tertentu. Lapisannya juga sudah diuji karbon, sehingga diketahui usia bangunan Gunung Padang memiliki angka fantastis yang bisa mencapai usia 25 ribu tahun.
"Sudah ada aktivitas manusia di situ, sehingga situs Gunung Padang menjadi bangunan yang memiliki peruntukan khusus pada masanya," katanya.
Baca Juga : Penelitian Internasional Ungkap Menyusutnya Tutupan Awan Perburuk Pemanasan Global
Dalam rangka membantu komunikasi publik ini, Teguh menambahkan, pihaknya juga sempat menerbitkan buku geolog dari Dr Dani Herman yang berjudul "Plato Tidak Bohong".
Buku ini juga menjelaskan bencana itu memiliki pola berulang yang bisa dikenali dari temuan arkeologi, makanya arkeolog dan ahli geologi terlibat dalam penelitian ini.
Karena itu, Teguh menimpali, penelitian situs Gunung Padang ini bukan klenik apalagi untuk pengalian harta karun. Melainkan untuk membantu pemetaan kebencanaan, sehingga jika berhasil aspek geologi negara ini menjadi utuh dan bisa memetakan mana daerah yang bisa dijadikan pemukiman penduduk dan mana tanah yang stabil atau tidak.
"Itu arti pentingnya menurut saya, makanya kami ketika itu sangat bersemangat untuk membantu komunikasi publik penelitian Gunung Padang ini," pungkasnya.
(Akb/Nusantaraterkini.co)
