Nusantaraterkini.co, SEOUL - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian soal stabilitas keuangan Korea Selatan (Korsel), demikian disebutkan dalam laporan bank sentral pada Kamis (26/3/2026).
Bank of Korea (BOK) menyatakan dalam laporan stabilitas keuangannya bahwa gangguan pada rantai pasokan energi, yang disebabkan oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, dapat mendorong kenaikan harga energi yang berdampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Bank sentral tersebut menyatakan bahwa lonjakan sentimen penghindaran risiko dapat meningkatkan volatilitas di pasar valuta asing dan pasar keuangan, seraya menekankan bahwa negara pengimpor energi seperti Korsel, yang sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah, kemungkinan akan merasakan dampak yang relatif lebih besar.
Baca Juga : Evakuasi Gelombang III, 45 WNI Keluar dari Teheran di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Nilai tukar won Korsel terhadap dolar AS, yang sempat melemah secara signifikan pada akhir Februari, menguat pada bulan ini dibandingkan mata uang utama lainnya, didorong oleh penguatan dolar AS di tengah meluasnya sentimen penghindaran risiko.
Pasar saham dalam negeri, yang sebelumnya mengalami kenaikan pesat, mencatatkan penurunan tajam dan peningkatan volatilitas segera setelah konflik di Timur Tengah pecah.
Baca Juga : Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Jepang, Tegaskan Hanya Ditutup bagi Negara Musuh
BOK memperingatkan bahwa jika konflik berlangsung lama, pelarian investor asing ke aset yang aman akan semakin menguat, membatasi peredaman volatilitas harga saham dan nilai tukar.
BOK menambahkan bahwa jika kenaikan harga minyak memperparah tekanan inflasi dari sisi penawaran, suku bunga pasar akan menghadapi tekanan ke atas yang lebih besar akibat meningkatnya kekhawatiran terkait pengetatan moneter global.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
