Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak terbatas atau cenderung konsolidasi pada perdagangan awal pekan, Senin (12/1/2026), seiring masih kuatnya sentimen global dan tekanan dari nilai tukar rupiah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), IHSG berakhir di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,13% ke level 8.936,7, setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah ditutup di level Rp16.819 per dolar AS di pasar spot, dipengaruhi oleh masih solidnya data ekonomi AS, sementara indikator ekonomi domestik menunjukkan sinyal perlambatan.
Baca Juga : Prediksi IHSG Hari Ini, 14 Oktober 2025: Berpotensi Rebound dan Uji Level 8.300
Phintraco Sekuritas menilai kondisi tersebut berpotensi membuat IHSG bergerak mendatar.
“IHSG diperkirakan berkonsolidasi pada rentang 8.860–9.000 selama indeks belum mampu ditutup di atas level psikologis 9.000,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (9/1/2026).
Sentimen Global Masih Membayangi
Baca Juga : IHSG Diproyeksi Lanjutkan Koreksi Hari Ini, Analis Rekomendasikan CPIN, PTBA, ULTJ hingga UNVR
Pergerakan bursa saham Asia pada Jumat lalu ditutup bervariasi (mixed), seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta perhatian pelaku pasar terhadap rilis data inflasi China.
Inflasi China tercatat naik menjadi 0,8% secara tahunan (YoY) pada Desember 2025, meningkat dari 0,7% YoY pada November 2025. Angka ini menjadi level inflasi tertinggi sejak Februari 2023 dan menandai kenaikan inflasi selama tiga bulan berturut-turut, terutama didorong oleh lonjakan harga pangan setelah periode deflasi sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, saham-saham sektor pertahanan kembali mencatatkan penguatan karena investor masih mencermati dinamika geopolitik global yang belum mereda.
Baca Juga : IHSG 12 Maret 2026 Bergerak Fluktuatif, Mayoritas Sektor Saham Melemah di Awal Perdagangan
Data Domestik Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, penjualan sepeda motor sepanjang 2025 tumbuh 1,3% secara tahunan menjadi sekitar 6,4 juta unit. Capaian ini berada di batas bawah target Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang berkisar 6,4 juta hingga 6,7 juta unit.
Meski mencatatkan pertumbuhan, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan kinerja 2024 yang tumbuh 1,5% YoY, mencerminkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Rekomendasi Saham
Untuk perdagangan Senin (12/1/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat diperhatikan untuk strategi trading jangka pendek, yaitu:
- CENT
- AGII
- GJTL
- ASRI
- MEDC
- SMBR
Investor tetap disarankan mencermati pergerakan global, arah rupiah, serta level teknikal IHSG sebelum mengambil keputusan investasi.
(Dra/nusantaraterkini.co).
