Nusantaraterkini.co, DELISERDANG – Rencana penutupan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 101778 di Medan Estate, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Sekolah yang berdiri puluhan tahun ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga bagian dari sejarah sosial warga.
Samsulbahri, salah seorang wali murid sekaligus alumni, mengenang kembali masa kecilnya. Ia menempuh pendidikan di sekolah tersebut pada tahun 1962 bersama sembilan saudaranya.
“Bahkan kakak saya yang kini sudah punya cucu, dulu juga sekolah di sini,” katanya saat ditemui di Percut Seituan, Jumat (3/10/2025).
Baca Juga : SD Negeri di Medan Estate Terancam Ditutup, Wali Murid Buat Petisi Penolakan
Kenangan itu kini terusik. Pada 30 September 2025, pihak sekolah mengundang wali murid untuk sebuah pertemuan. Tanpa banyak penjelasan, sekolah mengumumkan rencana penutupan pada akhir tahun ini. Murid diminta pindah ke sekolah lain.
Bagi Samsulbahri dan orang tua murid lainnya, keputusan itu mengejutkan. “Informasinya gelap, tidak ada yang pasti. Tiba-tiba saja diumumkan ditutup, padahal tahun lalu masih menerima siswa baru,” ujarnya.
Alasan penutupan makin membingungkan ketika Kepala Sekolah menyebut lahan SDN 101778 merupakan milik perkebunan. Namun, warga tidak mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai kebun mana yang dimaksud atau untuk apa lahan itu kelak digunakan.
Nurcahaya (36), wali murid lain, menambahkan bahwa pihak sekolah hanya memberi satu opsi siswa dipindahkan ke SD yang berada di Desa Laut Dendang, berjarak sekitar tiga kilometer.
Baca Juga : Minta Pungutan Rp 1,1 Juta, Kepsek SDN di Pamulang Diperiksa Disdikbud Tangsel
“Jaraknya jauh, ongkos jadi tambahan beban. Sementara biaya pemindahan sepenuhnya diserahkan ke kami, orang tua murid,” jelasnya.
Kondisi ini menambah tekanan bagi keluarga murid. Sebagian besar orang tua berprofesi sebagai buruh dan pekerja harian, yang harus memperhitungkan ongkos transportasi hingga waktu tempuh anak-anak mereka.
“Biasanya sekolah ditutup karena muridnya kurang. Di sini muridnya cukup. Jadi kami bingung, kenapa harus ditutup?” tegas Nurcahaya.
Sebagai bentuk perlawanan, puluhan wali murid bersama warga sekitar menyusun petisi penolakan. Surat itu menyatakan mereka tidak berkenan sekolah ditutup dan anak-anak dipindahkan. Petisi dilengkapi tanda tangan warga, dan rencananya akan terus digalang ke seluruh orang tua murid lainnya.
“Ini menyangkut masa depan anak-anak. Pendidikan dasar itu hak, seharusnya dijamin pemerintah. Kalau sekolah ditutup, siapa yang bertanggung jawab?” ujar Subagio, seorang warga saat diwawancarai Nusantaraterkini.co.
Baca Juga : Pemko Medan Persiapkan Penggabungan SD Negeri dan Bikin Sekolah Unggulan
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Sekolah SDN 101778 belum merespons upaya konfirmasi.
Begitu juga dengan Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Pesan singkat, panggilan telepon, hingga upaya mendatangi langsung, belum mendapat jawaban.
Bagi warga, sekolah tersebut adalah simbol akses pendidikan yang adil. Penutupan mendadak tanpa transparansi membuat banyak pihak khawatir ada kepentingan lain di balik kebijakan ini.
“Sekolah ini sudah puluhan tahun berdiri. Kalau benar ditutup hanya karena alasan lahan, berarti pendidikan masih kalah dengan urusan tanah,” ujar Subagio.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
