Nusantaraterkini.co, PALEMBANG—Sebanyak 101 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengikuti Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang difasilitasi oleh BPDP bersama PT Iskol Agridaya Internasional, di Hotel Aryaduta Palembang pada 9–14 Juni 2026.
Kehadiran 101 pekebun mandiri dalam bimbingan teknis garapan Ditjen Perkebunan Kementan RI ini ditujukan guna memperkuat kapasitas SDM sekaligus memacu tata kelola agribisnis rakyat yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Baca Juga : DPR Sebut Kampanye Negatif Sawit Hanyalah Taktik Perang Dagang Eropa
“Menerapkan ISPO memiliki keuntungan salah satunya meningkatkan produktifitas dengan menerapkan GAP kelapa sawit yang di atur dalam ISPO kemudian dapat meningkatkan akses pasar dan dapat tertelusur sehingga diketahui asal usul CPO dan tentunya dengan peningkatan kesejahteraan petani," ujar perwakilan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementan, Tulus Margono dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga : Kesempatan Pendanaan Riset Perkebunan 2026 Dibuka, Simak Syarat dan Bidang Fokusnya
Dalam pelaksanaannya, panitia memecah ratusan partisipan tersebut ke dalam tiga kelompok belajar, dengan rincian kelas pertama menampung 32 orang, kelas kedua 34 orang, dan kelas ketiga diisi oleh 35 petani.
"Setelah mendapatkan pelatihan ISPO ini, para pekebun dapat menerapkan di wilayah kebun masing-masing. Sehingga kedepannya dapat dilanjutkan pelatihan dan Internal Control System dan dapat fasilitasi sertifikasi ISPO yang difasilitasi ke program sapras yang didanai BPDP,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI, Dedy Kurniawan membeberkan status wilayahnya sebagai pemilik rekor program pemulihan tanaman sawit terluas secara nasional.
“Peremajaan sawit (PSR) Kab. OKI merupakan yang terluas di Indonesia dengan total 36.674,4144 Ha dengan 50 Kelembagaan pekebun peserta PSR,” bebernya.
Dedy meyakini, posisi strategis sebagai daerah pelaksana PSR terluas ini memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kestabilan harga jual komoditas di tingkat petani swadaya.
Oleh karena itu, setelah fase replanting berjalan lancar, fokus pemda kini bergeser pada penguatan kompetensi petani serta pemenuhan standar mutu produksi demi menjamin keberlanjutan industri daerah.
“Semoga kita semua diberikan kesehatan selama 6 hari pelatihan ini dan diharapkan peserta tidak bosan mengikuti pelatihan serta memanfaatkan kesempatan pelatihan ini,” katanya.
Senada, Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Selatan, Havizman turut meminta para utusan petani untuk menaruh komitmen besar terhadap agenda transfer ilmu ini.
"Mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh sehingga ilmu dan pemahaman ISPO yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan serta disebarluaskan kepada pekebun lainnya di wilayah masing-masing," tuturnya.
Ia bersama perwakilan Ditjenbun menggarisbawahi jika pemahaman aspek regulasi kelestarian ini, menempatkan petani kecil sebagai aktor utama penggerak transformasi industri kelapa sawit yang ramah lingkungan.
Kemitraan terpadu antara BPDP, Ditjen Perkebunan, dan ISKOL ini diproyeksikan mampu mencetak para pelopor di tingkat tapak yang terampil menularkan prinsip budidaya hijau ke kelompok tani lainnya.
“Melalui investasi pengetahuan ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan pada aspek produktivitas dan kesejahteraan petani sawit di Kabupaten Ogan Komering Ilir secara berkelanjutan,” ucap dia.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
