Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Strategi Hemat Energi, Pemerintah Siapkan WFH Seminggu Sekali Pasca Lebaran

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi kilang minyak dan gas. (Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipatif menghadapi tekanan krisis energi global yang kian terasa. Salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari dalam sepekan, khususnya setelah momen Lebaran.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kebijakan ini akan diberlakukan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan dianjurkan untuk diikuti sektor swasta, kecuali layanan yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik.

Menurutnya, skema WFH tersebut masih akan dirinci lebih lanjut, termasuk teknis pelaksanaan di lapangan dengan melibatkan sejumlah kementerian terkait.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Langkah ini diambil sebagai respons atas lonjakan harga energi dunia yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah. Dampaknya, beban subsidi energi dalam negeri berpotensi meningkat jika konsumsi tidak dikendalikan.

Di sisi lain, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai penerapan WFH dapat menjadi solusi efektif dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan perhitungan awal, pengurangan mobilitas masyarakat melalui kerja dari rumah bisa menghemat hingga 20 persen penggunaan BBM.

Namun demikian, pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara efisiensi energi dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, kebijakan WFH hanya diterapkan satu hari dalam sepekan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan optimal.

Baca Juga : Mengenal Bobibos, BBM Inovasi Anak Bangsa yang Segera Diuji ESDM: Klaim RON 98 dan Emisi Rendah

Penentuan hari pelaksanaan, seperti pada hari Jumat, juga dinilai memiliki dampak tambahan. Selain mengurangi mobilitas, kebijakan ini berpotensi menciptakan akhir pekan yang lebih panjang sehingga dapat mendorong aktivitas domestik, termasuk sektor pariwisata lokal.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menyoroti pentingnya langkah penghematan energi di tengah ancaman krisis global. Ia menegaskan bahwa pengendalian konsumsi menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi situasi tersebut.

Di tingkat internasional, International Energy Agency (IEA) juga mendorong kebijakan serupa. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa upaya penghematan energi perlu dilakukan secara kolektif oleh pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar AS

Selain WFH, IEA turut merekomendasikan pembatasan kecepatan kendaraan hingga pengurangan perjalanan udara guna menekan konsumsi energi secara signifikan.

Tak hanya itu, IEA bersama negara-negara anggotanya juga telah mengambil langkah besar dengan melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan strategis guna meredam lonjakan harga di pasar global.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS