Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Sejumlah sentimen global dan domestik, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga menurunnya cadangan devisa Indonesia, menjadi faktor yang membebani mata uang Garuda.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif, namun masih berpotensi ditutup melemah di rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS. Sebelumnya, pada perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup turun 151 poin ke posisi Rp18.187 per dolar AS dari level Rp18.036 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Pasar keuangan internasional kembali dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas petrokimia strategis.

Baca Juga : Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Menguat Tipis terhadap Dolar AS di Tengah Penguatan Indeks DXY

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia, khususnya terkait kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak global. Kondisi ini mendorong investor memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.

Di sisi lain, dolar AS memperoleh tambahan tenaga dari solidnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan 172 ribu lapangan kerja sepanjang Mei 2026, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, data bulan sebelumnya juga direvisi lebih tinggi, memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit pekan ini. Hasil data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada menurunnya cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 sebesar USD144,9 miliar, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD146,2 miliar.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah serta potensi kenaikan beban subsidi energi akibat lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa posisi cadangan devisa saat ini masih berada pada level yang memadai. Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Baca Juga : IHSG Tertekan Tajam, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut hingga Sentuh Level 5.100

Bank Indonesia juga memastikan cadangan devisa yang dimiliki masih mampu menopang stabilitas sektor eksternal serta menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

(Dra/nusantaraterkini.co)