Nusantaraterkini.co, PEMALANG - Tradisi berkirim makanan atau hantaran makanan yang sering disebut juga ater-ater, menjelang puasa ramadan kini sudah mengalami pergeseran dan cenderung berkurang.
Hal ini terutama di wilayah perkotaan, yang dibandingkan dengan masa lalu tradisi ini sangat kental dilaksanakan oleh warga.
Baca Juga : Arab Saudi Pantau Hilal 18 Maret, Penentuan Idul Fitri 1447 H Menunggu Hasil Rukyat
Akan tetapi secara keseluruhan di Pemalang, tradisi menyambut datangnya bulan ramadan tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi atau bertahan dalam bentuk lain.
Baca Juga : Berbagi di Bulan Ramadan, Sat Narkoba Polresta Deli Serdang Berikan Tali Asih ke Rumah Yatim Riyadhil Jannah
Salah satunya adalah, tradisi Megengan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat kota bercorak agamais ini. Megengan sendiri berasal dari kata amengan atau menahan.
Selain itu, di beberapa pasar, Tradisi Likuran juga masih banyak dijumpai, dengan adanya beberapa penjual serabi kecil atau serabi likuran. Khususnya 10 hari terakhir Ramadan, banyak pedagang serabi dijumpai menjual makanan khas bulan ramadan.
Menurut Sumedi, warga Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang, tradisi hantaran makanan jelang puasa sudah tidak ada, diganti dengan selamatan di mushola atau masjid.
"Jelang ramadan warga bawa makanan kebanyakan nasi bungkus, kemudian diserahkan pengurus mushola. Setelah terkumpul kemudian warga berdoa bersama, kemudian makanan tersebut dibagikan kembali ke warga," tuturnya, pada Minggu (15/2/2026).
Meskipun tradisi hantaran makanan ke tetangga jelang ramadan berkurang, esensi berbagi masih ada melalui sedekah makanan yang lebih praktis atau tidak lagi menggunakan rantang susun secara masif seperti dulu.
Jadi, lebih tepat dikatakan bahwa tradisi tersebut mengalami pergeseran bentuk (transformasi) karena modernisasi, daripada benar-benar hilang sepenuhnya dari kehidupan masyarakat Pemalang.
(rgl/nusantaraterkini.co)
